Powered by Blogger.

Popular Posts Today

Kompol AD Pernah Tugas di BNN Dengan Reputasi Buruk

Written By Smart Solusion on Friday, July 5, 2013 | 8:17 PM






JAKARTA, KOMPAS.com - Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Inspektur Jenderal Benny Mamoto mengungkapkan Kompol AD--yang mengambil dokumen di ruang stafnya--pernah bertugas di lembaga antinarkoba tersebut. Namun, reputasi Kompol AD di BNN buruk.


"Dia pernah tugas di BNN, tapi reputasinya negatif. Dia juga jarang masuk," ujar Benny saat dihubungi Jumat (5/7/2013) malam.


Benny tak ingat persis berapa lama Kompol AD bertugas di BNN. Menurutnya, saat ini AD bertugas di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.


Sebelumnya, Kompol AD terekam CCTV gedung BNN menyelinap ke ruang staf Benny, di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (4/7/2013) malam.


Kompol AD membawa dua dokumen dari ruangan tersebut. Dua dokumen itu dimasukkan dalam tas dan satu lainnya ditenteng. BNN masih mencari tahu dokumen apa yang diambil Kompol AD.


Kejadian tersebut tak lama setelah diketahui Benny dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh seseorang bernama Helena atas tuduhan penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Benny mengaku tidak tahu apakah kedatangan Kompol AD terkait kasus yang dilaporkan Helena itu.


"Itu mencuri namanya. Kalau dia menggeledah harus ada surat, berikutnya harus ada tanda terima barang apa yang diambil. Harus sesuai prosedurlah," katanya.


Benny mengatakan, Kompol AD juga mengancam petugas keamanan untuk tidak membuka mulut terkait kedatangannya ke BNN. Atas peristiwa tersebut, BNN langsung berkoordinasi dengan Polres Jakarta Timur.


Benny menambahkan, dia belum mengomunikasikan hal tersebut pada Badan Reserse Kriminal Polri. Dia berharap petinggi Polri akan mengklarifikasi langsung kepada Kompol AD terkait pengambilan dokumen itu.





Editor : Bambang Priyo Jatmiko


















8:17 PM | 0 komentar | Read More

Murray Lolos ke Final untuk Hadapi Djokovic





LONDON, KOMPAS.com — Andy Murray dan Jerzy Janowicz saling berhadapan di Centre Court All England Club untuk menjalani laga semifinal turnamen Grand Slam WImbledon, Jumat (5/7/2013) malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB.

Murray adalah finalis tahun lalu dengan dukungan sebagian besar penonton di lapangan utama ini, sementara Janowicz adalah petenis Polandia pertama yang berhasil menembus semifinal Wimbledon, bahkan dari semua turnamen grand slam.

Kalah pengalaman tak mambuat Janowicz gentar. Dia mampu memberi perlawanan ketat dan bahkan memenangi set pertama dengan 7-6 tiebreak 7-2 dalam 49 menit.

Set kedua dimulai dengan sukses Murray yang mematahkan servis lawan dan diakhiri dengan kemenangannya, 6-4 dalam 44 menit. Kedudukan imbang 1-1.

Janowicz membuka set ketiga dengan unggul cepat, 4-1. Tetapi, Murray memenangi lima game berikutnya yang memastikannya menutup set ini dengan keunggulan 6-4. Petenis 26 tahun ini butuh satu set lagi untuk memastikan diri lolos ke final.

Sebelum memulai set keempat, dua pemain harus meninggalkan lapangan ketika atap harus ditutup untuk mendapatkan lampu yang layak karena cahaya matahari yang sudah mulai redup.

Murray memprotes keputusan wasit Andrew Jarrett ini karena merasa sinar matahari masih cukup dan ada sekitar 45 menit sebelum atap seharusnya ditutup. Petenis nomor dua dunia ini tentu tak ingin kehilangan momentum dan fokus karena proses penutupan atap akan membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 25 menit.

Di sisi lain, janowicz menerima keputusan ini dengan senang hati karena dia bahkan sudah meminta atap ditutup lebih awal sebelum set ketiga dimulai.

Sedikit bermemori, tahun lalu, di lapangan indoor Paris Masters, dua pemain ini bertemu dan Janowicz keluar sebagai pemenang dalam pertarungan tiga set.

Tetapi, kali ini, Murray yang memegang kendali. Juara US Open 2012 ini akhirnya meraih kepastian lolos ke final Wimbledon 2013 setelah menutup set keempat dengan 6-3 dalam 35 menit.

Di final, Minggu (7/7/2013), Murray akan bertemu Novak Djokovic yang lebih dulu lolos setelah mengalahkan Juan Martin del Potro.




Editor : Pipit Puspita Rini

















8:14 PM | 0 komentar | Read More

Pasha Lega, Ibu Mertua Kecewa


BOGOR, KOMPAS.com — Vokalis grup band Ungu, Sigit Purnomo alias Pasha, menyambut hangat upaya mediasi dengan Okky Agustina yang dilakukan oleh Ketua Majelis Hakim Wedhayati SH dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/1/2010).


"Saya juga sebelumnya sudah meminta maaf sama Okky. Alhamdulillah, ternyata sekarang hakim sendiri yang memediasi," ujar Pasha saat ditemui seusai sidang.


Pasha pun mengaku sedikit lega. "Alhamdulillah sekarang sudah saling memaafkan masing-masing. Meski sidang belum tentu selesai," ujarnya.


Sementara itu, Sri Mulyanti, ibunda Okky, justru mengaku kecewa dengan mantan menantunya itu. "Sejak cerai, Pasha mana pernah minta maaf kepada Okky. Bahkan kemarin dia jemput anak-anak, dia cium tangan tapi tidak ada kata-kata meminta maaf kepada saya," imbuh Sri.


Menurut Sri, pelantun "Cinta Gila" itu termasuk pria yang alot untuk mengucapkan kata maaf. "Pasha itu orangnya susah minta maaf. Saya penginnya dia minta maaf dari hatinya sendiri enggak disuruh orang," tandas Sri.


Menurut Sri, pria yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap putrinya itu pernah meminta maaf ketika kepergok berselingkuh. "Dia pernah meminta maaf sama saya, sampai dia cium kaki saya karena dia ketahuan selingkuh dua kali. Pertama dengan pramugari dan yang kedua semuanya sudah tahu kan pas Okky cerai," tegasnya.


Meski begitu, Sri tetap tak menaruh dendam pada pria yang memberikannya tiga orang cucu. "Saya tidak dendam, saya hanya kasihan sama dia karena dia gengsinya tinggi," pungkas Sri. (C7-09)


8:06 PM | 0 komentar | Read More

DPRD DKI \"Ngotot\" Tunda Kenaikan Tarif Angkot

Written By Smart Solusion on Thursday, July 4, 2013 | 8:38 PM






JAKARTA, KOMPAS.com — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI masih belum ingin memutuskan kenaikan tarif angkutan umum sesuai usulan Organda DKI bersama Pemerintah Provinsi DKI. Ketua DPRD DKI Ferrial Sofyan mengatakan masih menunggu Dinas Perhubungan DKI untuk memperbaiki pelayanan angkot kepada penumpang.


"Kita tidak menjadikan rekomendasi gubernur sebagai dasar dalam membuat keputusan dewan. Tentunya kita tidak mau membuat keputusan ini secara gegabah," kata Ferrial di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jumat (5/7/2013).


Selain itu, DPRD juga meminta Dishub DKI bersama Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) untuk membuat komitmen perbaikan pelayanan. Ia menilai, usulan kenaikan tarif sebesar 50 persen itu akan menguntungkan pihak pengusaha. Ia berpendapat bahwa kenaikan tarif itu harus rasional dan jangan hanya menguntungkan pengusaha, tetapi juga para penumpang.


Ferrial meminta agar pengusaha angkutan umum menjamin keamanan penumpang sehingga tidak akan ada pelecehan di dalam angkot. Setiap angkutan umum juga harus memiliki izin KIR. Ferrial mengimbau agar Pemerintah Provinsi DKI memberikan subsidi pada kenaikan tarif angkot itu agar tidak memberatkan masyarakat.


"Kalau perlu ada subsidi dari kita agar tidak memberatkan masyarakat. Ini sebagai langkah kita ke depan. Dishub ini agak kreatiflah, jangan main naik-naikin saja. Mungkin kalau dinaikkan sedikit, Pemprov memberikan subsidi kepada pengusaha, kira-kira seperti itu," kata politisi Partai Demokrat itu.


Ia menyatakan, DPRD DKI hanya meminta kepada Dishub DKI terkait komitmen pelayanan mikro yang sudah ada terhadap penumpang di dalam angkot. Pertanyaan itu, kata dia, kerap dilontarkan DPRD kepada Dishub. Namun, tak mendapat jawaban dari Dishub DKI.


Ferrial mengatakan, DPRD tak ingin menunda-nunda kenaikan tarif angkot itu. Ia menilai keputusan penyesuaian tarif itu membutuhkan waktu untuk mengkajinya, tidak cukup hanya sekitar 1-2 minggu.


"Iya dong, bukan mengulur waktu. Kita tidak dapat langsung memutuskan apa yang telah diputuskan oleh Dishub dan Gubernur. Kita mesti lihat masukan range dari penyesuaian tarif. Ini sedang dibicarakan secara teknis oleh dewan," kata Ferrial.





Editor : Laksono Hari Wiwoho




















8:38 PM | 0 komentar | Read More

Indra Utami Tamsir Kembalikan Kejayaan Keroncong dan Langgam Jawa


Jakarta - Indra Utami Tamsir, penyanyi khas langgam keroncong Jawa baru saja mendapat penghargaan sebagai Penyanyi Keroncong Terbaik dalam AMI Awards 2013. Namun penghargaan tersebut tidak lantas membuai Utami dengan kesenangan dan kebahagiaan. Bagi Utami, piala kemenangan yang ia peroleh justru menjadi cambuk agar dirinya tidak pernah berhenti berjuang melestarikan keroncong dan langgam keroncong Jawa.


"Lewat kemenangan ini, satu jalan sudah terbuka untukku. Piala AMI setidaknya bisa menuntun aku untuk membawa genre keroncong dan langgam Jawa ke posisi kelas atas. Selama ini keroncong dan langgam hanya dipandang sebelah mata. Tetapi lewat piala kemenangan ini aku ingin mengubah pandangan tersebut," kata Utami saat ditemui usai menerima penghargaan Penyanyi Keroncong Terbaik, di Studio 8 RCTI, beberapa hari lalu.


Bila dibandingkan dengan genre musik lain di Indonesia, keroncong dan langgam Jawa adalah primadona. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, keroncong dan langgam Jawa sangat dikagumi. Namun, sejak tahun 1970-an, genre keroncong dan langgam mulai tersisih dengan masuknya jenis musik dari luar.


Berpegang pada fakta keroncong dan langgam menjadi primadona di masa lalu, maka Utami sebagai generasi muda di ranah keroncong ingin mengembalikan kejayaan tersebut. Ia pun tidak mau keroncong dan langgam menjadi genre musik yang tidak dikenal lagi oleh generasi muda. Ia khawatir di kalangan anak muda yang terlahir pada tahun 2000-an, keroncong dan langgam tidak dianggap sebagai warna musik Indonesia.


Atas dasar itu, Utami bersama penyanyi keroncong senior Waljinah berencana menggelar konser musik keroncong. Konser keroncong dan langgam Jawa ini akan dilaksanakan pada 24 Agustus di Hotel Sultan Jakarta. Dalam konser tersebut, Utami pun mengundang beberapa seniornya seperti Waldjinah, Mus Mulyadi dan Tuti Maryati.


"Konser akan menjadi satu dari banyak usaha yang akan aku lakukan untuk melestarikan keroncong di Indonesia. Tujuanku hanya satu, yaitu membawa keroncong dan langgam jawa menjadi tuan rumah di Indonesia. Setelah tujuan itu tercapai, maka barulah aku membawa keroncong dan langgam ke dunia internasional," tegas anak didik Waljinah itu.


Sementara itu, sebagai penyanyi dengan warna musik yang jarang diminati tersebut, Utami pun memiliki pengalaman suka dan duka. Pengalaman dukanya, Utami masih suka dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang mendewakan genre musik pop dan rock. Sementara sukanya adalah ia bangga menjadi penyanyi yang berani melestarikan budaya bangsa Indonesia.


"Aku yakin tidak banyak penyanyi yang mau melestarikan keroncong dan langgam. Apalagi dibutuhkan teknik dengan kesulitan tinggi untuk bisa menyanyikan lagu-lagu keroncong dan langgam. Karena itulah aku merasa spesial saat menyanyikan lagu keroncong dan langgam," tambah Utami.



8:32 PM | 0 komentar | Read More

Kini, Rumah yang Dibeli Hilmi Disebut Bukan Rumah Wakaf






JAKARTA, KOMPAS.com - Rumah di Kampung Loji I Timur, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat yang dibeli Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Hilmi Aminuddin dikatakan bukan rumah wakaf. Hal ini menurut pengakuan Elin, anak pemilik awal rumah yang mengaku pernah mengurus peralihan hak rumah tersebut.

Menurut Elin, rumah itu adalah milik orangtuanya, Haji Zaenal. Rumah yang luasnya sekitar 500 meter persegi itu kemudian diberikan Zaenal kepada putri bungsunya, Isma yang merupakan menantu Hilmi. Selanjutnya, sekitar 2002, rumah itu dijual Isma kepada Hilmi.

"Jadi orang tua saya itu ngasih ke adik saya yang paling kecil, semasa masih hidup. Anaknya ada 12, semua dikasih satu-satu. Nah yang dijual ke Hilmi itu kebetulan bagian adik saya yang paling kecil, jadi dikasih, bukan wakaf, suratnya saya yang ngurus," tutur Elin saat dihubungi Kompas.com, Jumat (5/7/2013).

Elin membantah pernyataan Faizal Rahmat dan pendiri PKS Yusuf Supendi yang mengatakan kalau rumah tersebut merupakan rumah wakaf. Sebelumnya Faizal mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mengajukan protes karena rumah yang menurutnya rumah wakaf tersebut disita KPK. Faizal juga anak dari pemilik awal rumah, Haji Zaenal.

Menurut Faizal, rumah itu dibeli Hilmi dari Isma kemudian dijual Hilmi kepada mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Dari tangan Luthfi lah, KPK menyita rumah tersebut karena diduga bagian dari tindak pidana pencucian uang yang dilakukan Luthfi.

Sementara menurut Elin, rumah tersebut bukanlah rumah wakaf. Elin mengungkapkan, Faizal sejak awal memang berniat menjadikan rumah itu sebagai wakaf. Namun, menurutnya, sang ayah, Haji Zaenal, tidak setuju untuk mewakafkan rumah tersebut.

"Ini hibah orang tua ke anak. Kebetulan Pak Fasizal ingin wakaf, tapi Bapak tidak setuju diwakafkan," ungkap Elin.

Sebagai gantinya, lanjut Elin, keluarga memberikan sebidang tanah untuk diwakafkan.

"Ibu saya lalu wakafkan bukan rumah, tapi tanah, sebidang tanah untuk mesjid, bukan yang dijual ke Hilmi," tambahnya.

Lebih jauh Elin mengungkapkan, Hilmi membeli rumah di Cipanas itu dari adik terkecilnya dengan harga sekitar Rp 500 juta pada 2002. Elin mengaku tidak tahu jika kemudian rumah itu dijual Hilmi kepada Luthfi.

Sejak Haji Zaenal meninggal, kata Elin, Hilmi jarang bertandang ke Cipanas. Elin juga menyayangkan sikap Faizal yang menurutnya telah menyebarkan informasi yang salah kepada media.

"Kebetulan adik saya (Faizal) mungkin ingin cari sensasi saja. Dia dulu wartawan, lalu dia juga pernah main sinetron, sekarang mau jadi penyanyi," ucap Elin.




Editor : Caroline Damanik




















8:17 PM | 0 komentar | Read More

Gubernur Cup DKI Tanpa Perenang Utama





JAKARTA. Kompas.com - Ajang lomba renang tahunan Gubernur Cup kali ini brelangsung tanpa diikuti perenang=perenang utama DKI Jakarta.

Gubernur Cup ke XXIX berlangsung di kolam rennag Gelanggang Mahasiswa Sumantri Brojonegoro, Kuningan pada 4-6 Juli 2013. Tahun ini pesertanya membludak ndegan 570 peserta dari perkumpulan renang DKi dan daerah.\

Namun kejuaraan tahun ini tidak diikuti atlet-atlet utama DKI Jakarta. Para atlet utama seperti Gde Siman Sudartawa, Guntur Pratama Putera, Patricia Yosita, Kathriana Mella tengah mengikuti kejuaraan Asian Indoor & Martial Arts Games 2013 di Incheon, Korea. Sebagian kemudian langsung mengikuti ajang Universiade di Moskwa, Rusia.

tak adanya para perenang utama ini memang mengurangi greget Guberneur Cup tahun ini sebagai tontonan. Persaingan ketat, terutama di tingkat senior tidak terjadi. Para atlet senior seperi Jordya Raditya Putra akhirnya terpaksa berlomba dengan para perenang dari kelompok umur I.

Gubernur Cup XXIX dibuka pada Kamis (4/7) yang berhujan oleh Ketua Umum Pengprov PRSI DKI Jakarta, Rudy Salahuddin Ramto. Dalam sambutannya, Rudy memuji jumlah peserta yang banyak dan peran serta orang tua atlet yang  mau menemani para atlet bertanding.

Sayangnya, hujan yang mengguyur kolam renang Sumantri Brojonegro, Kuningan pada hari pertama lomba memang sangat  mengganggu jalannya lomba. Sarana tribun penonton stadion renang Sumantri Brojonegoro yang terbatas dan sempit  sangat tidak ideal buat ajang sebesar Gubernur Cup ini.

Lomba tahun ini juga ditandai dengan kebingunngan  peserta tentang pembagian kelompok umur peserta. Ada atlet renang yang sebenarnya telah measuki kelompok usia 2 ternyata bisa bertanding di kelompok usia 3 yang lebih muda. Akibatnya kondisi ini merugikan para atlet renang yang harus menghadapi atlet dari kelompok usia di atasnya.

Kondisi ini juga diperparah dengan "kebiasaan" perkumpulan renang atau atlet untuk memanipulasi catatan waktu terbaiknya. Banyak atlet-atlet renang "mempertajam" catatan waktunya dengan harapan mendapatkan posisi strat yang menguntungkan (di tengah).

Dengan kondisi ini, sebenarnya merugikan cabang renang sebagai suatu olah raga tontonan.  Persaingan ketat antara atlet-atlet terbaik semakin jarang terjadi dan para penonton sering disuguhi partai puncak di lintasan terakhir dengan para atlet yang memiliki kemampuan belum memadai.

Beberepa waktu lalu, ketua Umum Pengprov PRSI DKI Jakarta, Rudy Salahuddin Ramto berjanji untuk membenahi masalah ini agar tidak menajdi kronis. "Namun kita  harus kerja keras membangun data base atlet-atlet renang DKI dengan akurat dan lengkap sehingga  tidak akan terjadi manipulasi data seperti itu," kata Rudy.




Editor : Tjahjo Sasongko















8:14 PM | 0 komentar | Read More

Pasha Lega, Ibu Mertua Kecewa


BOGOR, KOMPAS.com — Vokalis grup band Ungu, Sigit Purnomo alias Pasha, menyambut hangat upaya mediasi dengan Okky Agustina yang dilakukan oleh Ketua Majelis Hakim Wedhayati SH dalam persidangan di Pengadilan Negeri Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/1/2010).


"Saya juga sebelumnya sudah meminta maaf sama Okky. Alhamdulillah, ternyata sekarang hakim sendiri yang memediasi," ujar Pasha saat ditemui seusai sidang.


Pasha pun mengaku sedikit lega. "Alhamdulillah sekarang sudah saling memaafkan masing-masing. Meski sidang belum tentu selesai," ujarnya.


Sementara itu, Sri Mulyanti, ibunda Okky, justru mengaku kecewa dengan mantan menantunya itu. "Sejak cerai, Pasha mana pernah minta maaf kepada Okky. Bahkan kemarin dia jemput anak-anak, dia cium tangan tapi tidak ada kata-kata meminta maaf kepada saya," imbuh Sri.


Menurut Sri, pelantun "Cinta Gila" itu termasuk pria yang alot untuk mengucapkan kata maaf. "Pasha itu orangnya susah minta maaf. Saya penginnya dia minta maaf dari hatinya sendiri enggak disuruh orang," tandas Sri.


Menurut Sri, pria yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap putrinya itu pernah meminta maaf ketika kepergok berselingkuh. "Dia pernah meminta maaf sama saya, sampai dia cium kaki saya karena dia ketahuan selingkuh dua kali. Pertama dengan pramugari dan yang kedua semuanya sudah tahu kan pas Okky cerai," tegasnya.


Meski begitu, Sri tetap tak menaruh dendam pada pria yang memberikannya tiga orang cucu. "Saya tidak dendam, saya hanya kasihan sama dia karena dia gengsinya tinggi," pungkas Sri. (C7-09)


8:07 PM | 0 komentar | Read More

Tak Terima BLSM, Yoyon Mendapat Uang dari Jokowi

Written By Smart Solusion on Wednesday, July 3, 2013 | 8:38 PM






JAKARTA, KOMPAS.com
- Mata Isroni alias Yoyon (62) tampak berkaca-kaca ketika menceritakan apa yang dialaminya, Rabu (3/7/2013). Apalagi ketika menunjukkan uang Rp 600.000 pemberian Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.


Seharian kemarin, Yoyon memang mendapat perlakuan yang 'luar biasa'. Hilir mudik pejabat pemerintah daerah menyambangi kediamannya di Jalan Kingkit I No 20, RT 09/RW 04, Pecenongan, Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat. Mereka menyapa dan mendata ulang janda yang ditinggal suaminya sejak 20 tahun lalu itu.


Seperti diberitakan Warta Kota kemarin, Yoyon yang tinggal hanya beberapa ratus meter dari Istana Presiden tidak mendapat Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Padahal, sehari-hari janda miskin itu hidup dengan mengandalkan bantuan tetangganya.


Dua tahun lalu, ia masuk dalam daftar penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). Entah bagaimana, namanya kini tidak ada dalam daftar penerima BLSM atau sering disebut Balsem. Padahal, Yoyon masih tetap miskin.


Apa yang dialami Yoyon itu membuat pejabat pemerintah, dari tingkat Kelurahan Kebon Kelapa hingga Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, merasa prihatin. Mereka mendatangi kediaman Yoyon.


"Tadi jam 15.00 WIB, Pak Lurah Eddy datang untuk mendata ulang saya sebagai warga miskin," kata Yoyon kepada Warta Kota di rumahnya kemarin.


Yoyon menjelaskan bahwa kehadiran Lurah Kebon Kelapa hanya mendata serta memfoto rumahnya yang berukuran 2x3 meter persegi.


Setelah Lurah Kebon Kelapa pergi, sekitar 15 menit kemudian giliran pejabat Kecamatan Gambir datang untuk mendata Yoyon yang dikategorikan sebagai warga miskin dan butuh bantuan. Pejabat Kecamatan Gambir itu menanyakan data-data seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan bukti penerimaan BLT.


Petugas itu juga memotret gubuk Yoyon sebagai bukti untuk diserahkan kepada Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah. "Tadi saya dapat arahan dari Pak Lurah, suruh mendata Bu Yoyon," kata pejabat yang tidak mau disebutkan namanya tersebut.


Jokowi tidak datang ke rumah Yoyon. Namun, ia menugasi asisten pribadinya, Ivan, untuk mendatangi dan memberi bantuan kepada Yoyon.


Dengan sepeda motor, Ivan mendatangi gubuk Yoyon sekitar pukul 15.30. Ivan langsung menemui Yoyon dan memberikan sebuah amplop yang berisi uang Rp 600.000 kepada janda itu. "Bu Yoyon, ini ada sedikit rezeki dari Bapak Jokowi," kata Ivan.


Yoyon pun mengucapkan terima kasih banyak kepada Jokowi karena perhatian luar biasa yang diberikan.





Editor : Laksono Hari Wiwoho




















8:38 PM | 0 komentar | Read More

Usai Jadi "First Lady", Carla Bruni Kembali ke Dunia Musik


Prancis - Tahta, kekuasaan, dan kekayaan tidak membuai hidup Carla Bruni. Wanita yang pernah menjadi first lady negara Prancis ini justru semakin menemukan arti dan kesenangan hidup ketika ia tidak lagi menjadi ibu negara. Satu cara Carla menikmati hidup adalah dengan kembali serius menapaki kariernya di dunia musik, yang dulu sempat membesarkan namanya.


Sebelum menjadi istri dari Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Carla sudah dikenal sebagai model, bintang iklan, sekaligus penyanyi. Bukti dari eksistensi Carla di dunia musik pun tertuang dalam tiga album solonya. Album itu berjudul "Quelqu'un m'a dit" (2003), "No Promises" (2007), dan "Comme si den rien n'etait" (2008).


Setelah meluncurkan album ketiganya, aktivitas Carla sebagai seniman musik pun terhenti. Maklum saja, ketika ia memutuskan untuk menikah dengan orang paling penting di Prancis, otomatis semua aktivitas pribadinya harus dikontrol pihak kenegaraan. Tetapi untungnya, semua itu tidak berlangsung lama. Sebab, pada tahun 2012 silam pelan-pelan Carla kembali ke dunia seni dengan menjadi model dan penyanyi.


"Saya sangat bahagia bisa kembali fokus di dunia musik. Sudah sangat lama saya mendambakan ini semua. Ungkapan kebahagiaan ini saya tuangkan dalam sebuah album baru. Album keempat yang berjudul 'Little French Songs'," ungkap Carla seperti dilansir Reuters, Senin (1/7).


"Little French Song", menjadi album keempat yang proses pembuatannya sangat diperhatikan Carla. Dalam album terbarunya ini, Carla juga memunculkan sesuatu yang berbeda. Warna musik dalam album terbarunya lebih mengarah pada unsur pop dan folk. Uniknya lagi, album yang berisi 11 lagu ini seolah-olah menjadi "buku harian" Carla. Di album ini ia mengungkapkan rasa cinta pada suaminya, pengalaman cinta di masa lalu, dan makna romantisme bagi seorang wanita matang seusia Carla.


Pada album terbarunya ini, Carla berani mengungkapkan perasaan tentang suaminya. Lewat lagu "Mon Raymond", ia bertutur tentang keromantisan sang suami, sifat suami yang kompleks tapi taktis, dan juga betapa menawannya Raymond di mata Carla. Khusus pada lagu "Mon Raymond" ini, begitu jelas terlihat api-api asmara yang membara di hati model Bulgari ini.


"Suamiku tidak marah ketika aku memberi tahu ada lagu tentang dirinya. Justru menurutku dia menyukainya. Tentu saja, lagu ini bisa menjadi inspirasi bagi seorang pria dalam memperlakukan istri mereka. Sebab aku percaya pada dasarnya pria pun memiliki sisi lembut," tutur Carla.


Bukan hanya mencurahkan perasaan cinta untuk suaminya, dalam album terbarunya Carla juga sedikit mengumbar cerita di masa lalu. Cerita tentang ia pernah merasakan cinta dengan pacar-pacarnya. Satu dari mantan kekasih yang diceritakan oleh Carla adalah vokalis The Rolling Stone Mick Jagger.


Namun, karena dua lagu tentang perasaan cinta pada seseorang yang sangat berarti dalam hidup Carla ini, timbullah sebuah kontroversi. Beberapa orang yang mengerti musik dan mengenal kehidupan Carla protes dengan dua lagu tersebut. Alasan mereka, Carla tidak pantas menceritakan hubungan asmaranya yang menjadi konsumsi publik. Tetapi apa jawaban Carla untuk semua kritikan tersebut? "Aku bahagia sekarang. Saking bahagianya aku pun meluncurkan album terbaru. Jadi sekarang aku menikmati ini semua," lontarnya.


Terkait dengan album baru, tidak lama lagi Carla pun ingin menggelar tur ke beberala negara di dunia. Ia ingin tur ke Amerika Serikat dan Eropa. Ia berharap, di dua negara yang belum pernah ia kunjungi untuk tur tersebut, bisa menerima kehadirannya dengan tangan terbuka.


Carla sudah mengawali karier musiknya sejak tahun 1997. Album pertamanya, "Quelqu'un m'a dit" (Someone Told Me) dikeluarkan pada tahun 2002 dan terjual sebanyak dua juta kopi. Setelah itu, Carla yang menikah dengan Nicolas Sarkozy ketika masih menjadi Presiden Prancis, melahirkan anak kedua. Ia baru kembali ke kehidupan pribadi setelah Sarkozy kalah dalam pemilihan presiden tahun lalu oleh Francois Hollande.


"Kehidupan yang dulu aku jalani itu penuh dengan hal-hal menarik, orang-orang menarik, dan sangat beda dibandingkan kehidupan normal. Tetapi walau barada dalam lingkaran politik, aku tidak kehilangan kehidupan itu sama sekali," ungkap Carla.


Berbeda dengan Carla yang tengah eforia dengan albumnya, sang suami Sarkozy saat ini justru sedang berada dalam lingkaran investigasi. Sarkozy diinvestigasi menyangkut pendanaan partai.


8:32 PM | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger