Powered by Blogger.

Popular Posts Today

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik

Written By Smart Solusion on Tuesday, August 27, 2013 | 8:07 PM






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













8:07 PM | 0 komentar | Read More

Dinas PU DKI Klaim Sebagian Besar Jalan Jakarta Sudah Mulus

Written By Smart Solusion on Monday, August 26, 2013 | 8:38 PM






JAKARTA, KOMPAS.com - Pemprov DKI Jakarta mengklaim sudah sebanyak 95 persen jalanan Ibu Kota dalam kondisi baik. Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Manggas Rudy Siahaan mengatakan dari kondisi itu, berarti kondisi jalan yang rusak di Jakarta hanya sekitar 5 persen.

"Jalan di Jakarta sebanyak 90 persen yang sudah bagus dan diperbaiki, kalau ada kerusakan sedikit saja sudah ramai sekarang," kata Manggas di Balaikota Jakarta, Selasa (27/8/2013).

Manggas menjelaskan, di setiap Suku Dinas telah dianggarkan Rp 50 miliar untuk perbaikan jalan. Artinya seluruh anggaran di tiap wilayah jumlahnya mencapai Rp 250 miliar.

Jumlah itu belum termasuk dengan anggaran perbaikan jalan oleh Dinas PU Provinsi. DKI menerapkan konsep zero hole untuk meminimalisir tingkat kerusakan jalan sekaligus menekan kecelakaan lalu lintas.

Untuk perbaikan jalan berlubang dengan kategori ringan, Manggas menegaskan pihaknya  menyelesaikan dalam jangka waktu 1x24 jam dan penyelesaian untuk kategori berat 3x24 jam. Pejabat yang sempat akan dirotasi oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ini mengatakan kalau Dinas PU DKI masih kerap menerima banyak laporan jalan berlubang yang melalui media massa ataupun media sosial seperti Twitter. Akun twitter Dinas PU DKI adalah @poskodpudki menerima berbagai laporan berkaitan dengan pekerjaan umum termasuk kondisi jalan.

"Sekarang kalau ada kerusakan kecil langsung dilaporkan melalui Twitter dan akan kami kerjakan saat cuacanya mendukung," ujar Manggas.

Jalan berlubang pasca-musim hujan di Jakarta berdasarkan pantauan Kompas.com masih banyak terlihat di beberapa titik. Untuk di Jakarta Barat saja, hampir di semua wilayah, jalannya rusak dan berlubang. Misalnya saja di Jalan Panjang Kebon Jeruk, Kalideres, Jalan Tubagus Angke, Daan Mogot, Meruya Selatan, Cengkareng, Kapuk, Palmerah, Joglo, dan Srengseng.




Editor : Ana Shofiana Syatiri
















8:38 PM | 0 komentar | Read More

Bella Saphira Siap Menikah di Kampung Halaman Calon Suami


Medan - Pernikahan artis Bella Saphira dan Mayjen Agus Surya Bhakti tinggal menghitung hari. Pasalnya, keduanya telah mendaftarkan pernikahan mereka ke Kantor Urusan Agama (KUA) Stabat, Langkat, Sumatera Utara (Sumut), pada 20 Agustus 2013 lalu. Hal itu diungkapkan oleh Syamsul S.Ag dari KUA Stabat, saat dihubungi melalui telepon oleh sejumlah wartawan, Senin (26/8) sore.


"Iya, benar. Berkasnya sudah masuk dua-duanya. Kemarin didaftarkan bersama-sama pada 20 Agustus 2013 sore hari. Dan yang membawa berkasnya adalah dari keluarga calon pengantin laki-lakinya," ungkap Syamsul.


Lebih lanjut dijelaskan Syamsul, pernikahan yang akan digelar nantinya akan diselenggarakan di rumah kediaman pria yang menjabat Deputi I Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu.


"Jadi nantinya, pernikahannya akan diselenggarakan di rumah ibunda Bapak Agus Surya Bhakti. Karena beliau memang lahir di sini (Stabat)," lanjutnya.


Ketika ditanyakan lebih jauh tentang siapa saja yang akan menjadi saksi dalam pernikahan mereka, Syamsul pun menyebutkan dua nama pejabat. "Menurut rencana, yang akan menjadi saksi pernikahan Pak Agus dan Bu Bella adalah Bupati Langkat, Ngogesa Sitepu, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mba'i," tuturnya.


Seperti diberitakan sebelumnya, Bella Saphira direncanakan akan dinikahi oleh Mayjen Agus Surya Bhakti pada 30 Agustus mendatang di Stabat, Langkat, Sumut. Direncanakan pula, seminggu setelahnya atau pada 8 September 2013, acara resepsi pernikahan mereka akan digelar di Balai Prajurit Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan.



8:32 PM | 0 komentar | Read More

Jokowi Meroket, Ical: Biasa Saja Itu






JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Golkar Aburizal "Ical" Bakrie tak terlalu khawatir dengan melejitnya elektabilitas Joko Widodo alias Jokowi sebagai kandidat capres yang diinginkan masyarakat. Dalam survei yang dilakukan Litbang Kompas pada Juni 2013, elektabilias Jokowi mencapai 32,5 persen. Sementara, Ical 8,8 persen.

Ical mengaku tak khawatir dengan tren peningkatan keterpilihan Jokowi.

"Enggak (khawatir), biasa saja kok itu (elektabilitas)," ujar Ical, seusai Silaturahmi Kebangsaan Partai Golkar, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (26/8/2013).


Saat ditanyakan lebih lanjut tentang kemungkinan berduet dengan Jokowi pada Pilpres mendatang, Ical membuka pintu. "Bisa saja. Tapi dengan siapa pun juga bisa," ujarnya.

Terkait elektabilitasnya, Ical meyakini akan terus meningkat. Ia menargetkan bisa meraih elektabilitas hingga 50 persen. "Ya kalau mau jadi presiden, harus bisa mendapatkan 50 persen plus satu, dalam putaran pertama atau kedua," katanya.

Jokowi melesat

Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan popularitas Joko Widodo (Jokowi) dibandingkan dengan sosok lainnya mengindikasikan kian menguatnya tuntutan masyarakat terhadap kehadiran generasi kepemimpinan politik nasional baru yang tidak bersifat artifisial. Kesimpulan demikian tampak dari dua hasil survei opini publik yang dilakukan secara berkala (longitudinal survey) terhadap 1.400 responden—calon pemilih dalam Pemilu 2014—yang terpilih secara acak di 33 provinsi.



Hasil survei menunjukkan, semakin besar proporsi calon pemilih yang jelas menyatakan pilihannya terhadap sosok pemimpin nasional yang mereka kehendaki. Sebaliknya, semakin kecil proporsi calon pemilih yang belum menyatakan pilihan dan semakin kecil pula proporsi calon pemilih yang enggan menjawab (menganggap rahasia) siapa sosok calon presiden yang ia harapkan memimpin negeri ini.

Besarnya proporsi pemilih yang sudah memiliki preferensi terhadap sosok calon presiden secara signifikan hanya bertumpu kepada lima nama: Joko Widodo, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Megawati Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla. Pada survei terakhir (Juni 2013), lima sosok itu mampu menguasai dua pertiga responden. Sisanya (18,2 persen) tersebar pada 16 sosok calon presiden lainnya.

Dibandingkan dengan survei pada Desember 2012, ruang gerak penguasaan ke-16 sosok "papan bawah" popularitas ini relatif stagnan, yang menandakan kecilnya peluang lonjakan mobilitas setiap sosok ke papan atas (lihat grafik). Dari kelima sosok yang berada pada papan atas popularitas capres, kemunculan Jokowi sebagai generasi baru dalam panggung pencarian sosok pemimpin nasional menarik dicermati. Ia langsung menempati posisi teratas dengan selisih yang terpaut cukup jauh dengan keempat calon lain yang namanya sudah menasional selama ini.

Saat ini, tingkat keterpilihan Jokowi mencapai 32,5 persen. Proporsi itu meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat keterpilihannya pada Desember 2012. Di sisi lain, tingkat penolakan responden terhadap dirinya tampak minim dan semakin kecil. Dari seluruh responden, yang secara ekstrem tidak menghendaki dirinya menjadi presiden hanya di bawah 5 persen.

Sebaliknya, saat ini basis dukungan terhadap Jokowi makin luas. Ia makin diminati oleh beragam kalangan, baik dari sisi demografi, sosial ekonomi, maupun latar belakang politik pemilih. Dari sisi demografi, misalnya, dukungan dari kalangan beragam usia, jenis kelamin, ataupun domisili responden Jawa maupun luar Jawa bertumpu kepadanya.

Sosoknya juga populer tidak hanya bagi kalangan ekonomi bawah, tetapi juga kalangan menengah hingga atas. Ia pun diminati oleh beragam latar belakang pemilih partai politik, tidak hanya tersekat pada para simpatisan PDI Perjuangan, partai tempatnya bernaung. Bagi responden pendukungnya, paduan antara karakteristik persona yang dimiliki dan kompetensi yang ditunjukkan Jokowi selama ini menjadi alasan utama mereka menyandarkan pilihan. Ketulusan, kepolosan, dan kesederhanaan yang ditunjukkan Jokowi menjadi modal kepribadian yang memikat publik.

Sisi kepribadian tersebut berpadu dengan kompetensi yang ditunjukkan selama ini dalam langkah politiknya. Ia tidak bersifat elitis, gemar turun langsung memotret persoalan. Sebagai pemimpin lokal, ia produktif mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan mencoba konsisten menyelesaikan permasalahan. Paduan antara sosok kepribadian dan tindakannya yang dinilai publik tidak artifisial ini mendapatkan tempat yang tepat di saat bangsa tengah merindukannya.




Editor : Inggried Dwi Wedhaswary







Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:











8:17 PM | 0 komentar | Read More

Markis Kido/Mathias Boe Makin Kompak





HYDERABAD, KOMPAS.com - Pasangan ganda putra beda negara, Markis Kido (Indonesia)/Mathias Boe (Denmark), bekerjasama dengan baik dan menyumbang poin bgi Awadhe Warriors, dengan mengalahkan ganda India, Vishnu Arun/Sanave Thomas yang bermain untuk Pune Pistons, pada lanjutan Indian Badminton League (IBL) di Hyderabad, India, Senin (26/8/2013). Kido/Boe menang 21-15, 21-16, dalam 29 menit saja.

Kido dan Boe berpasangan hanya di turnamen ini. Pada awal bermain bersama memang ada kesulitan berkaitan dengan koordinasi dan kerjasama. Tetapi, dengan kemampuan dan pengalaman individu yang baik, mereka tak butuh waktu lama untuk saling beradaptasi.

Bahkan, kini mereka jadi kekuatan unggulan di tim Warriors. Menanggapi pertandingan tadi malam, Boe mengaku sama sekali tidak merasakan ketegangan saat bertanding.

"Saya dan Kido terus unggul empat sampai lima poin ketika bertanding tadi dan benar-benar bisa mengontrol pertandingan. Tidak ada poin ketat yang membuat kami tertekan selama bertanding," kata Boe usai pertandingan.

Sayangnya, sukses tersebut tak bisa kembali diraih Kido saat turun di nomor ganda campuran bersama adiknya, Pia Zebadiah Bernadet. Mereka harus mengakui keunggulan Joachim Fischer Nielsen (Denmark)/Ashwini Ponnappa (India) dan kalah 16-21, 14-21 dalam 34 menit.

Awadhe Warriors (AW) vs Pune Pinstons (PP), 4-1:
Tunggal Putra: K Srikanth (India) (AW) v Saurabh Verma (India) (PP) [21-18, 21-16]
Tunggal Putri: Pusarla Venkata Sindhu (India) (AW) v Jualiane Schenk (Jerman) (PP) [21-20, 21-20]
Ganda Putra: Markis Kido (Indonesia)/Mathias Boe (Denmark) (AW) v  Vishnu Arun/Sanave Thomas  (India) (PP) [21-15, 21-16]
Tunggal Putra: RMV Gurusaidutt (India) (AW) v Nguyen Tien Minh (Vietnam) (PP) [12-21, 18-21]
Ganda Campuran: Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadet (Indonesia) (AW) v Joachim Fischer Nielsen (Denmark)/Ashwini Ponnappa (India) (PP) [16-21, 14-21]




Editor : Pipit Puspita Rini















8:14 PM | 0 komentar | Read More

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













8:07 PM | 0 komentar | Read More

Dinas PU Miskin Inisiatif, Terlalu Tergantung Jokowi

Written By Smart Solusion on Sunday, August 25, 2013 | 8:38 PM






Nirwono Joga, Pengamat Tata Kota

JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta miskin inisiatif dalam menormalisasi kawasan pengendali banjir, yakni waduk. Contohnya penataan Waduk Pluit dan rencana penataan Waduk Ria Rio terkesan dikerjakan hanya karena dipaksa oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Normalisasi waduk ini sebenarnya program dinas atau program Jokowi? Ini kan jadi aneh, padahal dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI 2030 diamanatkan ruang terbuka biru harus mencapai lima persen dari luas wilayah DKI, dan sekarang baru 3 persen.

Waduk di DKI Jakarta memang ada yang dikelola Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kemen PU, namun seharusnya Pemprov DKI melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Rencananya, ada 11 waduk baru sampai 2030 dan ada 14 situ yang perlu ditata. Ini sudah ada di RTRW, Dinas PU seharusnya melaksanakan ini dan tiak tergantung pada Jokowi melulu.

Beberapa waktu lalu, Dinas PU DKI berencana menambah lagi luas waduk yang ada di DKI. Diharapkan pada 2014 atau 2015, DKI sudah memiliki area penampuan air ini seluas 438 hektar. Kini terdapat 35 waduk dan 16 situ, dengan total luas mencapai 253,75 hektar.

Nantinya akan ada 51 waduk dan situ seluas 438,93 hektar. Artinya, Pemprov DKI masih membutuhkan lahan seluas 185,18 hektar untuk memenuhi target 438,93 hektar untuk waduk dan situ tersebut.

Fungsi waduk sebagai sarana dan prasarana pengendali banjir karena berada di daerah rendah. Sedangkan situ hanya sebagai kolam penampungan dan fungsinya sebagai tempar parkir air sementara.

Situ juga berfungsi sebagai konservasi air tanah, karena di sekitarnya terdapat resapan air. Selain waduk retensi, Dinas PU DKI juga memiliki 36 polder atau waduk yang memiliki pompa, sebanyak 36 dan 11 sedang dalam proses pembangunan. Diharapkan dengan keberadaan waduk, situ dan polder, pengendalian banjir di DKI bisa terus membaik.

Berdasaran data Dinas PU DKI Jakarta, dari 35 waduk yang ada, yang diperluas sebanyak 22 waduk. Yakni Waduk Lebak Bulus dengan target 3,33 hektar dan saat ini baru 1 hektar. Kemudian Waduk Marinir Pondok Labu dengan target 3 hektar yang saat ini baru 0,9 hektar.

Waduk Rawabadung ditargetkan 5 hektar, saat ini baru 2,5 hektar. Waduk Aneka Elok dari target 2,5 hektar baru 1,5 hektar. Kemudian Waduk Rorotan dari target 50 hektar baru 1 hektar. Waduk Cilangkap dari target 13 hektar baru 12 hektar, dan Waduk Sunterhulu dari target 12 hektar baru 5 hektar.

Sedangkan waduk yang baru akan dibangun adalah Waduk Brigif seluas 12 hektar, Waduk Bintaro I seluas 2 hektar, Waduk Halim III 12 hektar, Halim IV 16 hektar, Halim V 19 hektar, Halim VI 11 hektar. Selanjutnya Waduk Pondok Rangon I seluas 11,45 hektar, Pondok Rangon II 2 hektar, Pondok Rangon III 6 hektar. Waduk Cipayung seluas 3,48 hektar, Cimanggis 4,5 hektar dan Waduk RW 05 Ceger 11,6 hektar. (sab




Editor : Ana Shofiana Syatiri







Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:











8:38 PM | 0 komentar | Read More

20 Tahun Menunggu Metallica, Tak Sia-Sia


Jakarta - Gegap gempita konser Metallica di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (25/8), memuaskan sekitar 50.000 penonton. Hingga usai konser, puluhan ribu penonton pun masih berteriak "we want more". Teriakan penonton yang tiada henti itu akhirnya disambut dengan rentangan bendera merah putih oleh dua personel Metallica.


Malam itu, Metallica, band metal lawas sangat enerjik di atas panggung. Selama 120 menit mereka menyanyikan lagu-lagu metal tanpa lelah. Kucuran keringat tak menjadi penghalang. Empat personel Metallica yang notabene sudah berusia setengah abad tersebut, justru tak terlihat letih atau terengah-engah ketika bernyanyi.


Dalam konser, sang vokalis mengungkapkan perasaannya. James Hetfield mengatakan ada rasa bangga dan haru mendalam yang dirasakan Metallica saat datang kembali ke Jakarta. Band metal yang digawangi oleh James Hetfield (vokalis),Kirk Hammet (gitar),Lars Ulrich (dram), dan Robert Trujillo (bas) merasa diperlakukan seperti keluarga oleh orang Indonesia. Meskipun sudah 20 tahun berselang, kedatangan mereka tetap dinanti.


"Kalian semua kelihatan bersemangat. Kalian rindu kami? Sudah 20 tahun kalian menanti. Dan inilah persembahan kami untuk kalian semua, yang resmi menjadi keluarga ke-5 Metallica," teriak sang vokalis usai menyanyikan tiga lagu pembuka.


Karena rasa haru itulah maka vokalis Metallica James Hetfield mentasbihkan sekitar 50 ribu penonton konser sebagai personel kelima band. Pengumuman tak tertulis tersebut dilaksanakan usai lagu ketiga. Pentasbihan dilakukan karna Hetfield bangga melihat antusias puluhan ribu penonton di Jakarta.


Sebagai pembuka konser akbar, Metallica menyanyikan 3 lagu tanpa jeda. Dimulai dari "Hit The Light", "Master of Puppets", dan "Fuel". Mendengar tiga lagu tersebut, atmosfer di antara puluhan ribu penonton langsung memanas. Aksi panggung Metallica dengan lagu-lagu metalnya memang patut diacungi jempol. Pada usia mereka yang tidak muda lagi, semangat kemudaan di 20 tahun silam itu tetap terlihat.


Sepanjang konser, Metallica seakan tidak memberi kesempatan istirahat kepada penonton. Serbuan lagu menghentak dilakukan tanpa henti. Lagu "Nothing's Else Matter", "Enter Sandman", "Fade to Black", "Unforgiven", "One", "Sad But True", "Ride The Lighting", dan masih banyak lagi. Bukan hanya agu, sajian instrumental yang dibawakan Metallica juga membuai penonton. String gitar dari Kirk Hammet, betotan bass Robert, dan hentakan bertubi-tubi dari drum Lars Ulrich membuat penonton terkesima.


Usir kebosanan
Sebelum Metallica menggebrak Stadion Utama GBK, puluhan ribu penonton sempat dibuat jenuh. Apalagi pasukan baju hitam-hitam sudah memadati GBK sudah menunggu sejak siang. Untuk membunuh kebosanan mereka melakukan aksi gimmick. Mulai dari bertepuk tangan tanpa alasan, bersorak-sorak, hingga berteriak memanggil Metallica.


Untungnya kebosanan sedikit terobati kala band pembuka, Seringai, muncul di panggung. Namun usai Seringai, penonton kembali bosan. Akhirnya 20 menit sebelum Metallica muncul, puluhan ribu di arena tribun membuat gimmick baru. Dimulai dari bangku sektor 6 berteriak sambil angkat tangan. Kemudian gaya tersebut diikuti penonton tribun yang ada di sektor 5,4,3,2,1, 23, 22, 21, 20,19, dan 18. Alhasil terciptalah teriakan yang indah dan teratur disertai dengan gerakan tangan bak rumput bergoyang.


Rasa bosan menunggu sang idola muncul di atas panggung, tidak di rasakan Gubenur Jokowi. Sebab, Jokowi yang katanya penggemar berat Metallica, baru datang 30 menit sebelum mulai. Otomatis ia tidak merasakan kebosanan. Apalagi, kedatangan Jokowi langsung disambut oleh tepuk tangan dan jepretan kamera penonton di arena festival. Malam itu, Joko Widodo pun terlarut saat mendengar lagu Metallica.


Usai menikmati konser Metallica, Jokowi langsung diarahkan menuju mobilnya Toyota Kijang Inova Hitam, berplat B 1124 BH, di pintu VII. Untuk menuju mobil tersebut, Jokowi ikut berdesakan bersama dengan penonton dan bodyguardnya. Sedikit komentar yang dilontarkan Gubernur DKI Jakarta ini adalah, ia senang bisa menonton musisi metal idolanya.


8:32 PM | 0 komentar | Read More

Pentingnya Suksesi 2014






JAKARTA, KOMPAS — Suksesi presiden tahun 2014 menjadi sangat penting ketika bangsa ini memasuki era baru. Indonesia terus menjalani proses konsolidasi demokrasi, yaitu membangun institusi demokrasi yang kokoh dan menyelesaikan sejumlah masalah dalam beragam bidang kehidupan.

Pada era baru, Indonesia mesti menjadi negara yang makin kuat, berdaulat, dan bermartabat. Dalam konteks itu, Indonesia memerlukan pemimpin baru.

Pascareformasi, Indonesia selalu dirundung masalah. Politik tak melahirkan perilaku dan etika yang bermartabat, tetapi politik transaksional dan praktik oligarkis sangat menonjol. Hukum tidak hanya sulit ditegakkan, tetapi justru diselewengkan, termasuk oleh penegak hukum. Korupsi yang menjadi agenda reformasi justru berkembang makin masif di sejumlah kalangan, termasuk penyelenggara negara.

Bangsa pun mulai mengendur kohesinya ketika konflik dan kekerasan sosial jadi jalan pintas untuk memecahkan persoalan. Suksesi 2014 menjadi sangat penting karena transisional dari era lama (Orde Baru hingga Reformasi) menuju era yang benar-benar baru dengan generasi yang terlepas dari beban masa lalu.

Ketika memberikan kuliah umum pada Program Pendidikan Reguler Angkatan Ke-49, Ke-50, dan Program Pendidikan Singkat Angkatan Ke-19 Lembaga Ketahanan Nasional, pekan lalu, Wapres Boediono mengingatkan pentingnya memilih pemimpin yang mampu mengawal demokrasi Indonesia. Alasannya, proses konsolidasi demokrasi di Indonesia belum rampung.

”Pilihlah pemimpin yang berintegritas, pemimpin yang mampu mengawal proses demokrasi,” kata Boediono di Istana Wapres.

Menurut Wapres, pasca-Reformasi 1998, Indonesia merampungkan masa transisi yang berat, yang kemudian memasuki era konsolidasi. Pada era konsolidasi itu, berlangsung pembangunan pilar-pilar demokrasi sehingga diperlukan orang-orang yang mau ikut membangun institusi demokrasi dan mengawal aturan main institusi demokrasi. Konsolidasi tidak akan berhasil jika semua orang berlomba-lomba ingin mempunyai posisi. Hal itu perlu diperhitungkan saat Indonesia memilih pemimpin.

Sebagai salah satu lembaga yang berfungsi menciptakan kader pemimpin nasional, menjadi tugas partai politik mencari pemimpin baru yang bisa memimpin Indonesia di era baru.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), misalnya, terus mencari sosok pemimpin nasional yang bervisi mengembangkan Indonesia menjadi negara berdaulat dan bermartabat. ”Capres (calon presiden) yang ideal adalah figur yang punya track record (rekam jejak) positif sebagai pemimpin publik dan politik. Sosok itu harus mampu menghadirkan kembali kepercayaan publik dan kebanggaan kepada NKRI,” kata Ketua Fraksi PKS di DPR Hidayat Nur Wahid, di Jakarta.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) juga berupaya bisa melahirkan pemimpin baru. Bagi PDI-P, kata Sekretaris Jenderal PDI-P Tjahjo Kumolo, kepemimpinan nasional setelah 2014 merupakan kepemimpinan transisional, perpaduan antara sosok yang memegang teguh prinsip dan sosok yang mampu mengelola pemerintahan.

Menurut Wakil Ketua Umum Partai Bulan Bintang Sahar L Hasan, figur pemimpin ke depan adalah yang tidak mewarisi sifat, cara kerja, dan pola presiden-presiden sebelumnya. ”Memilih presiden juga dengan menerapkan prinsip organisasi modern. Tidak merangkap jabatan di sana-sini, tidak mengutamakan urusan partai dibandingkan urusan negara,” ujarnya.

Bursa capres

Hingga Minggu (25/8), parpol terus giat menjaring capres, seperti dilakukan tim konvensi Partai Demokrat. PDI-P juga tengah menyiapkan rapat kerja nasional meskipun kemungkinan belum akan menyebut nama capresnya.

Hingga kini nama-nama yang beredar di publik masih berkutat pada nama-nama yang beredar beberapa tahun ini, antara lain Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Megawati Soekarnoputri, Mahfud MD, Surya Paloh, Rhoma Irama, Wiranto, Dahlan Iskan, Hidayat Nur Wahid, Sultan Hamengku Buwono X, Hatta Rajasa, Anies Baswedan, Suryadharma Ali, Ani Yudhoyono, Sri Mulyani, Yusril Ihza Mahendra, Pramono Edhi Wibowo, dan Sutiyoso.

Namun, nama yang santer disebut belakangan ini adalah Joko Widodo (Jokowi), Gubernur DKI Jakarta. Dalam sejumlah survei, nama Jokowi unggul di antara tokoh-tokoh yang telah menasional lebih dahulu. Jokowi dikenal sebagai tokoh daerah (Wali Kota Solo) yang menunjukkan kerja baik dan positif sehingga mampu memenangi pilkada Jakarta melawan pasangan petahana.

Belum setahun, kinerja Jokowi memperlihatkan gebrakan signifikan, antara lain penertiban kawasan Tanah Abang, penataan Waduk Pluit, juga rumah deret. Tak mengherankan, kinerja Jokowi dan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama, diapresiasi publik.

Berdasarkan survei Litbang Kompas (Desember 2013-Juni 2013), peningkatan elektabilitas Jokowi hampir 100 persen (dari 17,7 persen menjadi 32,5 persen). Dengan gaya kepemimpinan yang genuine dan tidak artifisial, serta gaya kerja yang blusukan, membuat Jokowi makin mampu menyedot perhatian publik. Sosok Jokowi seakan menjadi antitesis tipikal pemimpin saat ini yang lebih banyak berurusan dalam soal pencitraan, yang justru membuat publik kecewa.

Menurut Tjahjo, kemunculan Jokowi adalah bagian dari kaderisasi yang dilakukan partainya. PDI-P selalu berusaha mengusung kader muda yang dinilai berkualitas untuk menduduki jabatan penting, seperti kepala daerah. PDI-P juga tak segan mengusung sosok luar yang punya kesamaan cita-cita dan ideologi. ”Itu kami lakukan sebagai bagian dari upaya melahirkan pemimpin baru,” kata Tjahjo.

Hasil survei ditanggapi beragam oleh para petinggi parpol. Sekjen Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia Yusuf Kartanegara mengakui, masyarakat mendambakan figur capres yang merakyat seperti figur Jokowi.

Menurut Sekjen Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy, ”Survei hari ini memang Jokowi teratas. Namun, masih terlalu pagi disimpulkan, mengingat survei itu secara alamiah akan naik-turun, dan waktunya masih satu tahun lagi.”

Hasil survei yang tinggi, menurut Ketua Harian Partai Demokrat Sjarifuddin Hasan, justru harus mawas diri. Jika menunjukkan elektabilitas parpol sangat tinggi, lebih sulit mempertahankan daripada meningkatkan.

Terkait dengan hasil survei Kompas yang menempatkan Prabowo di urutan ke-2, Sekjen Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Ahmad Muzani mengatakan, Gerindra merasa memang posisi Prabowo belum maksimal sebab semua caleg Gerindra belum bergerak maksimal.

Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Thohari mengatakan, Partai Golkar memandang hasil survei tentang capres itu penting, tetapi temporer. Partai Golkar tetap mengampanyekan capres yang diusung, Aburizal Bakrie.

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo mengatakan, PAN sudah menetapkan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa sebagai capres, tetapi bisa saja nanti Hatta diminta menjadi calon wakil presiden, berkoalisi dengan parpol lain. Ini dilakukan jika perolehan suara atau kursi PAN dalam pemilu legislatif tak cukup untuk mengusung capres-cawapres sendiri. (IAM/ANA/FER/ATO/NTA/UTI/OSA/INA/NWO/SSD)




Editor : Inggried Dwi Wedhaswary


















8:17 PM | 0 komentar | Read More

Cruthlow, Start Terdepan, Jatuh, Finis Ke-17





BRNO, KOMPAS.com — Cal Cruthclow mengawali balapan GP Ceko di Sirkuit Brno, Minggu (25/8/2013), dengan optimisme tinggi. Tetapi, sayang, pada akhir balapan, pole sitter ini hanya mampu finis ke-17.

Setelah berhasil mencatat waktu tercepat pada sesi kualifikasi, Sabtu (24/8/2013), pebalap Inggris ini berharap bisa meraih podium kelimanya musim ini.

Saat balapan, Crutchlow sempat bersaing ketat dengan Alvaro Bautista dan Valentino Rossi untuk memperebutkan tempat keempat. Tetapi, dia mengalami kecelakaan pada putaran kedelapan. Meski berhasil bangkit dan melanjutkan balapan, dia tak mampu kembali ke posisinya.

"Tadinya saya senang dengan kecepatan saya dan merasa nyaman. Tetapi, lalu saya membuat kesalahan. Saya yang tengah berusaha bersaing demi naik bodium kehilangan kendali ban depan.

"Saya yakin bisa kembali ke posisi empat, tetapi motor saya sudah rusak. Saya menetapkan kecepatan dan membalap dengan konsisten. Saya tidak menyerah."

"Ini bukan awal yang bagus untuk balapan kandang saya di Silverstone (minggu depan). Tetapi, saya akan pergi ke sana dengan kesadaran bahwa saya punya kecepatan dan bisa bersaing di depan," terang Cruthclow.

Hasil lebih buruk didapat rekan satu tim Crutchlow di Yamaha Tech3, Bradley Smith. Rookie ini mengawali balapan dari posisi enam dan sempat bersaing dengan Rossi sebelum akhirnya jatuh di tikungan sembilan dan harus berhenti dari balapan.




Editor : Pipit Puspita Rini















8:14 PM | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger