Powered by Blogger.

Popular Posts Today

Daniel Wenas Absen, Pelita Jaya Tetap Yakin Pertahankan Gelar di Pramusim NBL

Written By Smart Solusion on Tuesday, September 10, 2013 | 8:14 PM





JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu pemain andalan Pelita Jaya Energi-MP, Daniel Wenas, dipastikan tak bisa mengikuti National Basketball League (NBL) musim ini. Small forward PJ ini mendapat cedera lutut ketika menjalani latihan rutin hari Kamis (29/8/2013) lalu.

Kini, Daniel telah selesai menjalani operasi anterior cruciate ligament (ACL) dan lateral meniscus di Filipina. Untuk memulihkan kembali kondisinya, ia membutuhkan waktu istirahat setidaknya 10 bulan.

Absennya Daniel memberi pengaruh besar pada PJ. Namun, pelatih Nathaniel Canson sudah memikirkan jalan terbaik, yaitu dengan mengarahkan Hendru Ramli sebagai pengganti Daniel.

"Hendru kami harapkan bisa menggantikan posisi Daniel. Hendru guard yang bagus. Dia akan bermain lebih bagus lagi di sini," kata Canson usai pertandingan uji coba PJ melawan Satria Muda BritAma di Hall Basket, Senayan, Jakarta, Selasa (10/9/2013).

Sebelumnya, Hendru memang bermain membela Garuda Kukar Bandung. Mulai musim ini, Hendru bermain sebagai guard untuk PJ.

Selain itu, musim ini PJ juga diperkuat dengan hadirnya empat pemain yunior. Mereka adalah Andre Rido Mahardika (point guard), Ricky Istiadi (point guard), Reiner Hutasoit (point guard/shooting guard), dan Nicky Ramandaru (shooting guard).

Dengan amunisi yang cukup, PJ yakin dapat mempertahankan gelar juara pramusim NBL yang akan berlangsung di Surabaya, 21-29 September mendatang.




Editor : Pipit Puspita Rini















8:14 PM | 0 komentar | Read More

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













8:07 PM | 0 komentar | Read More

\"Sekarang Sama Siapa Anak-anak Belajar Ngaji?

Written By Smart Solusion on Monday, September 9, 2013 | 8:38 PM






JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana duka masih menyelimuti kediaman Komarudin (42) di Jalan Lorong O Gg V , Koja, Jakarta Utara, salah salah seorang korban tewas kecelakaan di Km 8 200 Tol Jagorawi yang melibatkan AQJ, anak Ahmad Dhani. Achmad S Pakaya (72), mertua Komarudin, masih belum bisa percaya dan masih merasa terpukul atas kepergian menantunya itu.

"Saya sudah menganggap almarhum anak. Terpukul sekali saya merasa kehilangan menerima almarhum lebih dari menantu," kata Achmad sambil berkaca-kaca, Selasa (10/9/2013).

Lelaki asal Gorontalo tersebut sudah menganggap Komarudin lebih dari anaknya sendiri karena dalam tradisi Gorontalo, memperlakukan anak mantu harus seperti anaknya sendiri. Ia merasa kepergian Komarudin terlalu cepat.

"Anak-anak biasanya belajar mengaji sama dia, sekarang siapa lagi?" ujar Achmad.

Achmad juga mengungkapkan, walaupun menantu dan anak lainnya lebih sukses dari Komarudin, namun ia justru merasa paling nyaman dengan menantunya tersebut. Sebab dia memiliki kepribadian yang baik dan rajin beribadah.

Achmad juga khawatir dengan cucunya yang masih belum begitu sadar atas meninggalnya ayahnya. "Saya khawatir anak yang terakhir masih belum mengerti, itu saya khawatirkan ibunya tidak bisa jawab," imbuh Achmad.

Komarudin meninggalkan seorang istri, Voni (42), dan tiga anaknya, yaitu Komala Oktaviani (16) kelas 2 SMK, Nanda Fadila (12) kelas 1 SMP, dan Fajar Ardiansyah (10) kelas 5 SD.

Komarudin merupakan korban tewas akibat kecelakaan mobil Mitsubishi Lancer yang dikemudikan Dul di Km 8 200 Tol Jagorawi, Minggu (8/9/2013) dini hari. Lancer bernomor polisi B 80 SAl tersebut melaju dari arah Bogor menuju Jakarta dan kehilangan kendali sehingga menabrak pagar pembatas dan berpindah jalur ke arah Jakarta menuju Bogor. 

Dari arah berlawanan, mobil yang dikendarai Dul menghantam mobil Daihatsu Gran Max B 1349 TFM, serta melibatkan Avanza B 1882, yang melaju dari arah Jakarta menuju Bogor.  Dalam peristiwa tersebut enam orang meninggal dunia dan sebelas orang luka-luka.




Editor : Ana Shofiana Syatiri


















8:38 PM | 0 komentar | Read More

Analisis Politik: Gila Presiden di Tengah Kerumunan






Oleh: Yudi Latif
Amboi, betapa limpah jumlah petaruh di bursa calon presiden. Bahkan dalam konvensi Partai Demokrat, yang tak satu pun nalar sehat bisa menjangkau ujung keputusan trik politik ini, tak menyurutkan hasrat para aspiran untuk bertaruh.

Memasuki babak keempat kisah pemilihan Orde Reformasi, aktor-aktor politik dengan nama besar mulai surut dari gelanggang, memberi kesempatan kepada aktor-aktor biasa untuk mengisi pentas. Inilah era manusia rerata (the era of common man).

Pergeseran ini bisa memberi prakondisi yang positif bagi demokrasi egaliter jika didukung oleh sistem meritokrasi, yang memungkinkan pasar kepemimpinan bisa diakses oleh orang-orang kapabel dari segala kalangan. Namun, juga bisa berdampak negatif jika era rerata ini hanya memberi outlet bagi narsisme politik para pemuja diri.

Ketika kekaguman terhadap ”nama-nama besar” mulai pudar akibat kemerosotan wibawa pusat-pusat teladan, secara naluriah banyak orang mengalihkan kekagumannya kepada diri sendiri (self-glorification). Hanya berbekal penampilan, sumbangsih tipis, atau modal tebal, seseorang sudah merasa pantas menjadi orang ”nomor satu” di negeri ini.

Ledakan narsisme yang mendorong kegilaan menjadi presiden itu mengandung potensi destruktifnya tersendiri bagi demokrasi. Seperti dikatakan Montesquieu bahwa ”Prinsip demokrasi dikorup bukan saja ketika spirit kesetaraan hilang, melainkan juga ketika spirit kesetaraan yang ekstrem berlangsung—manakala setiap orang merasa pantas memimpin.”

Para petaruh yang tidak memiliki keluasan wawasan kenegaraan, ketebalan modal sosial, dan kedalaman rekam jejak pergulatan publik mudah tergoda untuk mengompensasikan kekurangannya dengan melipatgandakan manipulasi pencitraan. Nilai rekayasa kemasannya jauh lebih besar ketimbang nilai sumbangsihnya terhadap bangsa. Situasi inilah yang melahirkan onggokan sampah pemimpin plastik, yang tidak otentik dalam ruang publik kita.

Pemimpin plastik tak pernah menghiraukan isi hidup dan arah hidup. Pemimpin yang tidak menawarkan isi hidup dan arah hidup, meminjam ungkapan Bung Karno, adalah pemimpin yang cetek. Ia adalah pemimpin penggemar emas sepuhan, bukan emas murni. Ia cinta kepada gebyarnya lahir, bukan kepada nurnya kebenaran dan keadilan. Sebuah bangsa besar yang dirundung banyak masalah hendak dipimpinnya bukan dengan kekuatan visi, melainkan dengan impresi.

Kecenderungan mediokritas dan ketidakotentikan pemimpin seperti itu tidaklah memenuhi kebutuhan Indonesia akan kepemimpinan krisis. Pada masa krisis dengan beragam fenomena disorganisasi sosial, dunia politik justru memerlukan peran kepemimpinan yang lebih besar. Yang diperlukan bukan saja pemimpin yang baik (good leader), melainkan pemimpin agung (great leader). Keagungan di sini tidaklah merefleksikan kapasitas untuk mendominasi dan memaksa, tetapi terpancar dari kesejatian karakter untuk mengasihi, melindungi, mengurus, dan menertibkan.

Keguyuban

Dalam suatu bangsa yang ditandai oleh kecenderungan untuk membenarkan yang biasa, tidak membiasakan yang benar, keguyuban yang berkembang acap kali merupakan keguyuban yang destruktif, seperti tecermin dalam istilah ”budaya korupsi”. Dalam situasi demikian, yang diperlukan bukanlah pemimpin yang konformis, yang gestur politiknya mengikuti ekspektasi kemapanan yang korosif. Yang dibutuhkan justru pemimpin eksentrik yang bisa berpikir out of the box dan berani menawarkan pilihan yang berbeda dari arus utama.

Seperti dinyatakan John Stuart Mill, kreativitas sosial memerlukan tumbuhnya eksentrisitas. Lantas ia tambahkan bahwa ”jumlah eksentrisitas dalam suatu masyarakat pada umumnya proporsional dengan jumlah genius, kekuatan mental, dan keberanian moral yang dikandung masyarakat tersebut. ”Bahwa saat ini Indonesia mengalami defisit pemimpin eksentrik berkarakter yang memiliki kekuatan mental, kebernasan gagasan, dan keberanian moral untuk mengambil pilihan sendiri di luar kelatahan dan tekanan luar, merupakan tantangan yang harus segera dipecahkan oleh institusi pemilihan kita.

Ada sejumlah persoalan yang mengemuka dari institusi pemilihan kita. Tingginya biaya kekuasaan membuat banyak partai lebih mendukung orang-orang rerata yang berani bayar ketimbang orang-orang eksentrik yang tak bermodal. Selain itu, ada paradoks antara preferensi pada pemilihan langsung yang mengarahkan masyarakat menuju individualisme dengan ketiadaan pranata sosial yang dapat mengembangkan otonomi dan karakter individu.

Dalam lemahnya logika pencerahan, kepastian hukum, dan ekosistem kreativitas, ruang otonomi individu dipersempit oleh keharusan keguyuban. Kebanyakan individu tumbuh dengan mentalitas konformis, bukan subyek berdaulat yang bisa memilih atas dasar daya pikirnya dan melakukan learning to unlearn dari tradisi buruk.

Pergeseran ke arah individualisme tanpa kekuatan individualitas melahirkan buih-
buih kerumunan di ruang publik. Mentalitas kerumunan tanpa kapasitas nalar publik inilah yang rentan dimanipulasi oleh mesin pencitraan dan politik uang atau dipersuasi oleh sentimen tribalisme dalam bentuk fundamentalisme, premanisme, dan nepotisme.

Demokrasi individualisme di tengah mentalitas kerumunan itulah yang memberi peluang bagi tampilnya dua jenis pemimpin yang meramaikan ruang publik: mereka yang gila presiden atau presiden gila. Padahal, yang cocok untuk memulihkan krisis dan membawa transformasi bangsa ke depan adalah pemimpin eksentrik yang ”setengah gila”.


Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan




Editor : Caroline Damanik







Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:











8:17 PM | 0 komentar | Read More

Ferrari dalam Tahap Akhir Memilih Pebalap





MARENELLO, KOMPAS.com - Ferrari mengaku menghadapi pilihan yang sulit dalam memutuskan siapa pebalap mereka untuk musim depan. Bos tim kuda jingkrak ini, Stefano Domenicali, mengaku masih belum ada keputusan, hingga Senin (9/9/2013) sore kemarin.

"Ini adalah sesuatu yang ingin kami lakukan di waktu yang tepat, untuk memastikan bahwa kami mengambil keputusan yang tepat untuk tim. Saya rasa, fakta bahwa kami belum membuat keputusan, berarti kamu sedang mempertimbangkan semua elemen," kata Domenicali.

"Kami ingin memakai semua pertimbangan untuk membuat keputusan yang tepat. Kami akan mengumumkan secepat mungkin setelah kami membuat keputusan. Ini bukan keputusan yang mudah buat kami," tambahnya.

Kimi Raikkonan adalah pebalap yang paling santer diberitakan akan kembali membela tim Scuderia. Pria Finlandia tersebut dikabarkan akan menggantikan Felipe Massa yang tengah menurun performanya. Bersama Ferrari, Raikkonen meraih gelar juara dunia pada 2007.

Sementara hubungan Ferrari dan pebalap utamanya, Fernando Alonso, sempat terusik dalam beberapa pekan terakhir. Tetapi, Domenicali meyakinkan bahwa pebalap Spanyol tersebut masih akan berseragam merah Ferrari.

"Tak ada keraguan bahwa Fernando adalah pemimpin. Fernando dan Ferrari sedang menuju puncak. Fernando tahu ini dengan sangat, sangat baik. Kami tetap fokus pada tujuan yang kami punya, yakni menang bersama," tutup Domenicali.




Editor : Pipit Puspita Rini















8:14 PM | 0 komentar | Read More

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













8:07 PM | 0 komentar | Read More

Dijaga Ketat, Resepsi Pernikahan Bella Saphira dan Mayjen Agus Berlangsung Meriah

Written By Smart Solusion on Sunday, September 8, 2013 | 8:32 PM


Jakarta - seusai menggelar acara pernikahan di Stabat, Langkat, Sumatera Utara, pada 30 Agustus 2013 lalu, kini giliran Jakarta menjadi tempat resepsi pernikahan antara Bella Saphira dan Mayjen Agus Surya Bakti. Bertempat di Balai Prajurit Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (8/9) malam. Resepsi kedua pasangan tersebut digelar dengan pengawalan ketat dari Polisi Militer (PM) yang dibantu petugas dari Kepolisian.


Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Yakub, di dalam gedung resepsi kedua pasangan pengantin baru itu terlihat begitu sumringah.


"Wajah Bella sumringah dan bahagia sekali. Sejak awal pas akad di Sumut, Bella sangat riang dan bahagia. Jadi, kita juga ikut bahagia," ungkap Ali Mustafa Yakub.


Lebih lanjut Ali belum dapat memastikan apakah keluarga Bella Saphira turut hadir dalam resepsi yang digelar meriah itu.


"Saya tidak tahu persis apakah orangtua Bella hadir atau tidak. Tapi, ada keluarganya kok. Di samping Bella itu semua keluarganya," lanjutnya.


Dalam kesempatan itu pula, Ali Mustafa Yakub memberikan ucapan selamat kepada Bella Saphira dan Mayjen Agus Surya Bakti.


"Kita doakan semua mudah-mudahan Bella diberi bagian-bagian yang lain dari pernikahannya, ya termasuk momongan, dan sakinah mawaddah warrahmah," tuturnya.


Dari acara resepsi pernikahan yang digelar tersebut terlihat beberapa pejabat dan tamu undangan yang hadir untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai, di antaranya Menkopolkam Djoko Suyanto, Menpora Roy Suryo, Danjen Kopasus Mayjen Agus Sutomo, Letjen Marciano Norman, Jendral (Purn) AM Hendropiyono, dan beberapa pejabat lainnya.


Selain pejabat dan tamu undangan turut hadir pula tamu undangan dari kalangan selebritis seperti Anwar Fuadi, Alvin Adam, Diah Permatasari, Ageng Kiwi, Dea Mirella, Edies Adelia, Sarwana, serta ratusan undangan lainnya. Konsep pernikahannya sendiri dibuat romantis dengan dominasi bunga mawar merah, pink, dan putih. Hiasan gorden dibuat senada dengan ornamen pink, emas, dan salem.


8:32 PM | 0 komentar | Read More

Lupakan Jokowi






Oleh: Donny Gahral Adian

Jokowi adalah meteor di alam raya politik republik ini. Elektabilitasnya melesat jauh di atas pesaing-pesaingnya. Alhasil, percakapan politik pun hanya mengerucut pada dua pilihan: Jokowi atau kompetisi.

Artinya, jika Jokowi mencalonkan diri, maka tidak ada kompetisi sama sekali. Kompetisi baru sengit jika Jokowi tetap setia mengurus Jakarta. Ini wajar saja. Namun, politik terlalu sederhana jika pilihannya hanya Jokowi atau kompetisi. Politik yang sederhana tidak menarik. Politik baru menarik jika menjadi arena perebutan kekuasaan oleh calon-calon pemimpin yang sama kuat.

Persoalannya, partai-partai saat ini tidak mampu melahirkan kader terbaik. Di pihak lain, kelompok-kelompok nonpartai mengidap alergi politik yang akut. Tak heran, Jokowi ibarat setetes air di bejana kosong politik republik ini.

Partai tokoh

Sesudah Orde Baru, berbagai kelompok politik pun berhamburan keluar dari persembunyiannya. Sebagian menetap di masyarakat sipil. Sebagian lain memasuki masyarakat politik. Mereka yang memasuki politik pun menjajal medan baru yang menyimpan sejuta misteri. Salah satu misteri adalah ”apa syarat mungkin sebuah organisasi politik?” Sebagian menjawab: ideologi. Sebagian lain tidak percaya ideologi. Mereka yang antipati terhadap ideologi lebih memilih tokoh sebagai syarat mungkin organisasi. Tokoh melahirkan partai dan bukan sebaliknya.

Pikiran semacam ini menemukan materialisasinya pada Partai Demokrat. Kita semua tahu bahwa SBY yang melahirkan Partai Demokrat, bukan sebaliknya. Ibarat anak balita, tumbuh-kembang Partai Demokrat seayun dengan tumbuh-kembang SBY. Logikanya, partai dibangun untuk meloloskan orang, bukan ide. Hal yang sama akhirnya ditiru Gerindra dan Hanura. Prabowo melahirkan Gerindra dan Wiranto melahirkan Hanura. Akhirnya nasib partai pun seperti rokok. Kita ingat ”Prabowo” ketika mendengar ”Gerindra”.



Partai-partai gurem pun tidak mau ketinggalan. Sutiyoso melahirkan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia. Sri Mulyani melahirkan Partai SRI. Semuanya berpikiran sama: membuat partai untuk meloloskan orang. Soal ide bisa diurus belakangan. Akibatnya, jagat politik Republik hanya diramaikan segelintir orang. Pertarungan politik hanya terjadi di antara ketua dan tokoh partai. Pertarungan antara Gerindra dan Hanura sejatinya adalah pertarungan antara Prabowo dan Wiranto. Bukan pertarungan antarorganisasi. Hidup-mati partai pun terpulang pada elektabilitas calon presidennya.

Partai pun bergerak tanpa mesin. Penggerak utama partai hanyalah ketokohan calon presidennya. Tak heran Partai Demokrat membuat ”konvensi anomali” yang mengundang tokoh-tokoh nonkader. Partai Demokrat seperti hendak mencari SBY Jilid Dua yang bisa mendongkrak elektabilitas partai. Setelah sempoyongan dihajar korupsi, Demokrat berharap terjadinya ”kelahiran kedua” pascakonvensi. Metode ini menunjukkan betapa partai defisit kader akibat terlalu berporos pada tokoh. Partai-partai yang dilahirkan oleh dan untuk tokoh harus berhati-hati karena juga akan mengalami hal yang sama. Saat partai kehilangan tokoh, maka dia akan sibuk memunguti pemimpin di jalanan.

Saat ini partai yang berjubel kader hanya PDI Perjuangan. Jokowi bisa dibilang hanya salah satu kader terbaik PDI-P. Kita sebut saja nama-nama seperti Rustriningsih, Ganjar Pranowo, Budiman Sudjatmiko, Aria Bima, dan Eva Sundari. Mereka adalah sederet kader yang masa depan politiknya masih panjang dan cerah. Memang perjuangan mereka di dalam partai tidak mudah. Namun, hanya pertarungan politik internallah yang dapat melancipkan kemampuan politik seseorang. Pisau tidak diasah dengan kertas. Pisau hanya bisa diasah dengan batu.

Tanpa Jokowi

Megawati memang masih menjadi tokoh sentral di PDI-P. Namun, berbeda dengan Demokrat, PDI-P tidak perlu mencari-cari calon presiden dari luar. Stok capres PDI-P cukup banyak. Kepala-kepala daerah PDI-P yang kapabel (selain Jokowi) tidak sedikit. Ini menunjukkan betapa di PDI-P, partailah yang melahirkan orang, bukan sebaliknya. Partai dibangun bukan untuk merebut jabatan presiden belaka, melainkan memastikan pemerintahan dijalankan sesuai dengan patokan ideologisnya.

Demokrasi membutuhkan partai-partai yang berjubel kader. Jika tidak, demokrasi hanya diisi pemimpin-pemimpin politik karbitan. Partai, bagi saya, adalah sekolah politik sesungguhnya. Memang, pedagang dan akademisi juga sekolah. Namun, sekolah pedagang dan akademisi tidak menajamkan kemampuan politik seseorang. Di dalam dunia bisnis dan universitas juga terdapat kompetisi yang sengit. Namun, kompetisi bukan pertarungan politik. Pertarungan politik adalah tegangan antara dua kekuatan ideologis yang tidak mengenal win-win solution. Partai pun tak lain adalah koloseum tempat berlatih para petarung politik.

Partai juga merupakan sekolah tempat orang ditempa kapasitas pengelolaan teritorialnya. Jokowi adalah contoh yang menarik. Dia tidak muncul tiba-tiba di jajaran elite nasional. Dia ditempa dulu sebagai eksekutif di Solo. Setelah itu baru dia naik ke provinsi sebesar Jakarta. Partai perlu secara sengaja menciptakan rekam jejak bagi kadernya. Semuanya harus direncanakan secara matang. Tidak bisa seorang akademisi mendadak jadi calon presiden. Tanpa kemampuan politik dan rekam jejak teritorial yang memadai, jangan harap seseorang dapat menjadi presiden yang mumpuni.

Meroketnya Jokowi tidak tiba-tiba. Semuanya berproses. Kejenuhan pada model kepemimpinan yang elitis memang berpengaruh. Namun, Jokowi tetap merupakan sebuah produk sebuah organisasi politik yang matang. Jokowi bergantung pada PDI-P, tetapi hidup-mati PDI-P tidak bergantung pada Jokowi. Partai tidak diukur dari elektabilitas calon presidennya. Partai diukur dari jumlah kader terbaik yang dihasilkannya. Konvensi Partai Demokrat di Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu, misalnya, adalah pertarungan antara dua kader terbaik partai: Hillary Clinton dan Barack Obama.

Jadi, sekali lagi, politik jangan terjebak pada pilihan-pilihan yang sederhana. Jokowi jelas terlalu kuat bagi pesaing-pesaingnya. Politik baru menarik jika pertarungan terjadi di antara kader-kader terbaik dengan selisih elektabilitas yang tipis. Saya bermimpi setiap partai kelak membuat konvensi untuk mendapatkan kader terbaik dari kader-kader terbaiknya. Kader terbaik itulah yang akan bertarung melawan kader terbaik partai lain. Saya merindukan satu saat nanti diskusi politik di republik ini tidak melulu bicara soal tokoh sebab saat itu kita sudah melupakan Jokowi.

Donny Gahral Adian, Dosen Filsafat Politik UI




Editor : Caroline Damanik







Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:











8:17 PM | 0 komentar | Read More

Haornas Jateng Dipusatkan di Kota Magelang





MAGELANG, KOMPAS.com – Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-12 tahun 2013 tingkat Jawa Tengah dipusatkan di Kota Magelang. Upacara Haornas digelar di Lapangan Rindam IV/Diponegoro Magelang, dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Senin (9/9/2013).

Menurut Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Magelang, Suko Tri Cahyo, adalah kebanggaan tersendiri karena Kota Magelang menjadi tuan rumah untuk kali pertama.

"Bukan sekadar tempat upacara, ini kesempatan kita untuk promosi Kota Magelang. Sekaligus menjaring dukungan agar Kota Magelang menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng tahun 2017 mendatang," jelas Suko, Senin (9/9/2013).

Dalam upacara Haornas yang bertema “Olahraga Membangun Karakter Bangsa” itu disuguhkan aneka hiburan tambahan. Antara lain penampilan para atlet air modelling, bela diri TNI (Yong Modo), marching band SMA Taruna Nusantara, dan senam massal Porpri.

Usai mengikuti upapaca, Ganjar Pranowo dijadwalkan akan meninjau fasilitas olahraga di komplek Stadion Madya sekaligus menjajal rumput stadion dengan bermain sepak bola. Suko menambahkan, untuk menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng tahun 2017 mendatang, Kota Magelang bersaing dengan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Semarang.

Menurut Suko, Kota gethuk ini juga akan bersaing untuk bisa menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020.




Editor : Pipit Puspita Rini















8:14 PM | 0 komentar | Read More

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













8:07 PM | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger