Powered by Blogger.

Popular Posts Today

Basuki Punya Empat Pulau di Belitung

Written By Smart Solusion on Saturday, September 14, 2013 | 8:38 PM






BELITUNG TIMUR, KOMPAS.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ternyata memiliki empat pulau pribadi di Kepulauan Bangka Belitung. Untuk diketahui, Kepulauan Bangka Belitung memiliki ratusan pulau. Setidaknya tercatat ada sebanyak 168 pulau kecil di daerah yang terkenal dengan tambang timah tersebut.

"Saya diwariskan bapak saya 3-4 pulau, tapi ke ibu saya lho. Ha ha ha," kata Basuki, di Belitung Timur, Sabtu (14/9/2013).

Empat pulau di Kepuluan Bangka Belitung itu merupakan warisan dari sang ayah Indra Tjahaja Purnama (Kon Nam) yang merupakan pengusaha timah dan pasir yang terkenal di Belitung. Pulau-pulau tersebut ditanami dengan pohon kelapa. Karena Basuki telah menjadi pejabat negara, harta kekayaannya telah dilaporkan semua kepada lembaga terkait.

"Kita laporkan semuanya. Karena sebagian juga harta saat saya masih menjadi pengusaha," kata Basuki.

Pria yang akrab disapa Ahok itu kemudian menceritakan kalau temannya pernah berujar padanya bahwa seorang kaya itu adalah yang memiliki rumah, apartemen, gunung, pantai, hutan, dan pulau. Sehingga Basuki dianggap sebagai orang kaya oleh temannya.

"Padahal teman saya itu orangnya kaya sekali. Tapi, saya dianggap lebih kaya dari dia, karena dia enggak punya gunung, pantai, dan hutan. Ha ha ha," katanya seraya tertawa.

Pulau-pulau Basuki yang telah ditanami dengan pohon kelapa itu awalnya akan dijadikan sebagai produsen santan. Ayahnya memiliki ide untuk menjadikan pohon kelapa itu menjadi santan dalam kemasan. Namun, ide tersebut tidak dilanjutkan karena tidak ada yang mengakomodir.

Saat itu, beberapa warga desa ada yang menimpali kalau barang dagangannya tidak akan laku, karena produknya sudah tidak segar lagi. Padahal, sekarang produk santan kemasan diminati oleh warga Indonesia pada umumnya.

Agar ide itu tidak sia-sia terbuang, ayahnya menyekolahkan Basuki di Jakarta guna menyalurkan ide-ide yang muncul saat berada di kampung halamannya. Salah satu contoh adalah ide mengembangkan kelapa menjadi santan kemasan. Kalau di Belitung Timur, produk itu dipandang sebelah mata. Namun jika sudah masuk kota, maka produk itu justru diminati warga.




Editor : Farid Assifa
















8:38 PM | 0 komentar | Read More

Meski Habis, Penjual Makanan Korea di Konser SNSD Tak Untung


Jakarta - Gelaran konser sekelas Girls' Generation World Tour Girls & Peace 2013 di Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, Jakarta Utara pada Sabtu (14/9) tentu menjadi lahan empuk untuk mendulang rupiah.


Salah satunya dengan membuka stand makanan Korea bagi para K-Pop mania.


"Habis sih habis, tapi enggak untung juga. Soalnya di sini jualnya lebih murah daripada di restoran," kata Manajer Area Han Gang Restaurant, Dewi, usai membereskan barang-barang di standnya, Sabtu.


Han Gang Restaurant sore ini menjual beberapa makanan Korea seperti Kimbap dan Shin Ramyeon. Stand Han Gang ramai diserbu para sone (sebutan untuk penggemar SNSD) sebelum konser dimulai.


Dewi mengatakan ia tak mau memasang harga yang sama dengan harga restoran. Tujuan Han Gang membuka stand di MEIS sebagai pengenalan produk (brand awarness) kepada para pecinta masakan korea.


"Misalnya Shin Ramyeon, itu di restoran harganya Rp 55.000 tapi di sini cuma Rp 30.000. Jadi memang bukan buat cari untung," tegas Dewi.


8:32 PM | 0 komentar | Read More

Hari Ini, 11 Peserta Konvensi Demokrat Perkenalkan Diri





JAKARTA, KOMPAS.com - Sebelas peserta Calon Presiden Konvensi Partai Demokrat akan memperkenalkan diri kehadapan publik di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, hari Minggu (15/9/2013) ini. Dalam acara perkenalan itu, setiap peserta akan berorasi menyampaikan visi dan misinya di hadapan media dan tamu undangan.

"Setiap peserta akan secara bergantian selama 5 menit berpidato menyampaikan visi dan misi mereka," kata Juru Bicara Konvensi Demokrat Hinca Panjaitan saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Minggu.

Acara perkenalan tersebut rencananya akan dihadiri oleh Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, kader-kader Partai Demokrat hingga Ketua Umum Partai-Partai sahabat. "Total Undangan ada 1000," lanjut Hinca.

Dengan acara itu, kata Hinca, Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat telah memasuki tahap pertama. Setelah perkenalan, setiap peserta akan mensosialisasikan diri masing-masing ke hadapan publik dari September hingga Desember 2013.

"Nanti akhir Desember kami akan lakukan survei pertama, dari situ akan keluar peringkatnya," kata Hinca.

Setelah melewati tahapan pra-konvensi, panitia menetapakn 11 peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat, yaitu 1) Ali Masykur Musa (anggota Badan Pemeriksa Keuangan); 2) Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina); 3) Dahlan Iskan (Menteri BUMN); 4) Dino Patti Djalal (Duta Besar RI untuk Amerika Serikat); 5) Endriartono Sutarto (mantan Panglima TNI); 6) Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan); 7) Irman Gusman (Ketua Dewan Perwakilan Daerah); 8) Hayono Isman (anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat); 9) Marzuki Alie (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat); 10) Pramono Edhie Wibowo (mantan Kepala Staf Angkatan Darat); 11) Sinyo Harry Sarundajang (Gubernur Sulawesi Utara).




Editor : Egidius Patnistik
















8:17 PM | 0 komentar | Read More

China Pastikan Satu Gelar di China Masters




Ganda putri China, Wang Xiaoli (kiri)/Yu Yang, berteriak setelah berhasil mencetak skor saat menghadapi ganda Korea, Jung Kyung-eun/Kim Ha-na, pada babak perempat final BWF World Championships 2013, di Guangzhou, China, Jumat (9/8/2013). | sports.sina.com








CHANGZHOU, KOMPAS.com - Ganda putri unggulan pertama, Wang Xiaoli/Yu Yang, mulus ke babak final Adidas China Masters Superseries 2013, usai mengalahkan rekan senegara, Ou Dongni/Tang Yuanting, dengan skor telak 21-13, 21-6 dalam waktu 24 menit, di Changzhou, China, Sabtu (14/9/2013).

Wang/Yu langsung unggul pada awal game pertama dengan 4-1. Ou/Tang berhasil menyamakan skor menjadi empat sama. Sayang, setelah itu mereka terus tertinggal. Ganda nomor satu dunia saat ini akhirnya menutup game pertama dengan 21-13.

Game kedua sepenuhnya menjadi milik Wang/Yu. Memanfaatkan keadaan lawan yang tak berkembang di lapangan, Wang/Yu langsung memenangi game ini dengan 21-6.

Wang/Yu akan menghadapi rekan sendiri yang juga unggulan kedua, Ma Jin/Tang Jinhua di babak final, Minggu (15/9/2013). Ma/Tang lolos dari babak semifinal usai mengalahkan ganda Korea, Jang Ye-na/Kim So-young, dengan straight game 21-18, 21-13.

Pertandingan antara dua ganda China tersebut memastikan satu gelar untuk China di nomor ganda campuran pada turnamen ini.




Editor : Aloysius Gonsaga AE















8:14 PM | 0 komentar | Read More

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













8:07 PM | 0 komentar | Read More

Kisah So Ji Sub, "Aktor Kelas 2" yang Jadi Superstar

Written By Smart Solusion on Friday, September 13, 2013 | 8:32 PM


Berkah datang dari mengidolakan seseorang. Begitulah kira-kira perjalanan karier So Ji Sub bermula. Menggambarkan dirinya sebagai pendiam dan penakut di masa kecil serta remajanya, lelaki kelahiran 4 November 1977 ini awalnya hanya punya cita-cita menjadi perenang profesional. Hidupnya pun berkutat tak jauh dari dunia renang kemudian juga hiphop, genre musik favoritnya.


Sampai suatu hari di tahun 1995, ia memutuskan terjun ke dunia modelling karena ingin bisa kerjasama bareng penyanyi hiphop idolanya, Kim Sung Jae, yang kala itu menjadi brand ambassador untuk sebuah merek celana jeans. Langkah itu yang kemudian membawanya menjadi aktor ternama hingga kini.


"Saya tak pernah tertarik jadi selebriti. Dulu hidup saya hanya seputar renang dan hiphop. Saya ingin jadi model karena saya ingin bertemu Kim dan saya rasa itu cara terbaik untuk menghasilkan banyak uang,” kenang pria yang juga berprofesi sebagai penyanyi ini.


Dari menjadi model celana jin, So Ji Sub membuka peluang karier di industri hiburan. Ia memulai debut akting di drama sitkom, Three Guys and Three Girls (1996). Sayang langkahnya tak mulus karena di saat yang sama rekannya sesama model celana jin, Song Seung Heon (Autumn in My Heart, East of Eden) lebih bersinar dan dikenal publik. So Ji Sub sendiri hanya kebagian peran peran kecil dan baru perlahan menanjak saat memerankan tokoh pemeran utama kedua di Glass Slippers (2002).


Kesempatan menjadi bintang besar muncul lagi saat ia bermain di What Happened in Bali (2004). Sayang, lagi-lagi ia harus ‘mengalah’ pada lawan mainnya, Zo In Sung, yang mendapat porsi popularitas lebih besar. Untunglah tak lama setelahnya, So Ji Sub berhasil membuktikan ia bukan sekadar aktor kelas dua. Akting gemilangnya di I’m Sorry, I Love You membuat banyak orang tercengang. Tahun 2004 merupakan puncak kejayaannya. Tak hanya di Korea, aktor pertama yang namanya dijadikan nama jalan di Korea, tepatnya di provinsi Gangwon, juga menjadi fenomena di Asia.


Menjalani wajib militer pada 2005, So Ji Sub mampu mempertahankan popularitasnya. Kariernya bahkan makin cemerlang berkat Cain and Abel (2009). Tahun ini, peraih Rising Star Asia Award di New York Asian Film Festival 2008 ini kembali hadir menyapa penggemar dengan serial drama horor komedi terbaru, The Master’s Sun yang tayang setiap Rabu dan Kamis pukul 19.55 WIB di saluran khusus tayangan hiburan Korea, ONE.


Karakternya sebagai Joo Joong Won, CEO sebuah mal mewah yang sangat kejam dan serakah. Ia terpikat pada Tae Gong Sil atau Tae-yang (Gong Hyo Jin), asistennya yang punya kemampuan bisa melihat hantu.


8:32 PM | 0 komentar | Read More

Saat Orang Batak Meneguhkan Jati Diri






JAKARTA, KOMPAS.com
 — Banyak orang Batak dituding mengidap sindrom inferioritas. Artinya, mereka tak bangga dengan budayanya sendiri, tetapi justru lebih senang menyerap budaya asing. Padahal, budaya dan tradisi Batak menyimpan kearifan lokal dan pengetahuan yang tak kalah luhurnya dengan budaya Barat. Sebab itu, sindrom tersebut harus dikikis agar tak hanyut oleh terpaan budaya instan global.


Sebanyak 500 siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas berbaris rapi. Masing-masing membawa lima cawan. Begitu suara gondang atau gendang bertalu, anak-anak itu langsung menggerakkan tangannya secara gemulai. Mereka pun menari Tortor Cawan.


Mereka tengah berlatih untuk tampil dalam Festival Danau Toba di panggung terbuka Tuk Tuk, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, yang berlangsung sejak Minggu (8/9/2013) hingga Sabtu (14/9/2013). Hampir dua jam berlatih, peluh akhirnya membasahi wajah anak-anak yang terus menari di bawah terik. ”Satu, dua, tiga, tangan diangkat. Bagus!” ujar pemandu tari.


Seusai latihan, mereka berhamburan ke warung untuk membeli makanan dan minuman. Sambil menyantap, anak-anak pun berbagi cerita.


”Saya bisa manortor (menari tortor) karena latihan di sekolah, selain sering lihat di acara pernikahan,” kata Chintya Sidabutar (13), salah seorang penari. Namun, Chintya mengaku tak memahami makna ataupun cerita dari tarian yang diikutinya itu. ”Itu guru kami yang tahu,” katanya.


Sebagian besar generasi muda Batak sesungguhnya memang tak memahami makna Tortor Cawan. Mereka hanya tahu, tari Tortor Cawan ataupun Tortor Somba atau lainnya merupakan tari yang kerap dilakukan saat upacara pernikahan.


Selain tarian, dalam Festival Danau Toba juga akan ditampilkan gondang, lomba solu bolon (perahu tradisional Batak), dan festival ulos. Gondang merupakan tradisi batak yang paling populer di samping tortor dan ulos.


Gondang pun memiliki makna sangat sakral bagi orang Batak. Gondang menjadi sarana menerjemahkan doa-doa umat manusia kepada Tuhan (Debata). Dalam konteks kekinian, tradisi ini masih begitu kuat dalam setiap ritual umat Parmalim, pemeluk Ugamo Malim. Ugamo Malim merupakan agama lama orang-orang Batak sebelum kedatangan agama seperti Kristen dan Islam.


Dalam acara Sipaha Sada, Sipaha Lima, atau Mardebata, gondang selalu muncul. Gondang dimainkan di sela-sela doa yang dipanjatkan ihutan (pemimpin agama) dalam setiap ritual, baik gondang sabangunan (pengkap) maupun gondang hasapi (kecapi).


”Gendang berfungsi sebagai perantara (manusia dengan Tuhan) sekaligus suara hati seseorang,” kata antropolog Universitas Negeri Medan, Ibrahim, dalam Agama Malim di Tanah Batak (2010). Namun, makna seperti itu tentu tidak dipahami generasi seperti Chintya. Mereka hanya paham gerak minus makna.


Dalam hal menghafal aksara Batak, anak-anak muda Batak pun minim. ”Dulu pernah diajarkan di sekolah, tetapi saya tidak pernah bisa menulis Batak. Susah,” tandas Desy Sidabalok, pelajar SMA di Samosir. Memang, budaya instan yang mengglobal lewat seperangkat gadget akhirnya menggerus budaya, termasuk budaya Batak.
Mengagungkan budaya


Direktur Bidang Kebudayaan Festival Danau Toba Rizaldi Siagian membaca bahwa saat ini orang-orang Batak mengidap sindrom inferioritas terhadap budaya sendiri. Padahal, ketika arus globalisasi menguat, unsur lokalitas harus menguat untuk ikut menjadi global. Bukan sebaliknya, surut dan terbawa arus budaya lain.


Setiap tradisi dan budaya lokal sebenarnya memiliki pengetahuan yang sarat kearifan lokal. Gondang, misalnya, mengajarkan cara bermusik dengan nada pentatonis. ”Jika ini dilupakan, generasi Batak kehilangan jejak dan jati dirinya,” kata Rizaldi.


Untuk itulah, agar nilai luhur budaya dan tradisi Batak terus terpelihara, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Festival Danau Toba. Berbagai seni dan tradisi Batak yang sudah jarang dijumpai kembali diangkat dalam bentuk yang lebih segar. Tentu, ini untuk menegaskan jati diri orang Batak.


”Sejak awal, konsepsi kami adalah untuk mengagungkan budaya Batak dan kami kemas dengan menggabungkan unsur olahraga,” kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar.


Kombinasi tradisi dan olahraga itu, misalnya, dikemas dalam bentuk lomba solu bolon dan renang jarak jauh mengelilingi Pulau Samosir sepanjang 117 kilometer. Solu bolon merupakan alat penyeberangan warga sekitar Danau Toba. Namun, kini sudah diganti kapal motor. Hidup berdampingan dengan danau juga menjadikan masyarakat di sekitar Danau Toba sebagai perenang alami.


Kesenian Batak juga dipentaskan dengan kesenian serupa dari luar negeri melalui sebuah eksperimen dalam Festival Drum Dunia, yang menjadi salah satu acara pokok Festival Danau Toba. Misalnya, gondang Batak akan dimainkan bersama pemain gendang atau drum dari Amerika Serikat (AS) dan India. Gondang Batak juga coba digandeng dengan seni sejenis dari Vietnam dan Uganda. Inilah yang membuat pujian musisi asing yang hadir.


”Musik gondang luar biasa indahnya karena banyak variasi nada yang bisa dimunculkan dari sebuah drum,” kata musisi dari Afrika, Abou, yang tertarik belajar.


Pemain klarinet asal Texas, AS, Jonathan Jones, juga mengagumi sarune, alat musik tiup yang dipakai dalam musik gondang. ”Saya harus punya alat musik itu untuk dibawa pulang,” katanya.


Demikian para wisatawan asing yang menyempatkan melihat Festival Dana Toba. Joanna Ecezia, asal Polandia, misalnya, terkejut melihat keragaman motif ulos ataupun keindahan kerajinan kayu warga Batak. ”Semua yang saya lihat adalah wujud budaya yang berasal dari penggabungan budaya animisme dan agama modern,” ujarnya.


Juga Sandra Niessen, warga Belanda, yang aktif melestarikan budaya Batak, yaitu tenun ulos sejak tahun 1979. Tak heran jika ia tampil sebagai pembicara dalam lokakarya bertopik ulos. Ia mengajak masyarakat kembali menghargai ulos sebagai warisan budaya. Peneliti Inggris, William Marsden, juga memuji keagungan budaya Batak lewat The History of Sumatra (1811). Orang asing saja memuji, masa orang Batak-nya tidak? ()





Editor : Hindra Liauw
















8:17 PM | 0 komentar | Read More

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













8:07 PM | 0 komentar | Read More

Saat Mark Wahlberg dan Denzel Washington Transaksi Narkoba

Written By Smart Solusion on Thursday, September 12, 2013 | 8:32 PM


Jakarta - Masih ingatkah Anda dengan film Mr & Mrs Smith? Pasangan suami istri yang menjalani kehidupan rumah tangga mereka tanpa mengetahui identitas masing-masing sebagai agen rahasia. Cerita seakan berulang namun bukan hubungan suami dan istri.


Mereka adalah Denzel Washington dan Mark Wahlberg. Keduanya jadi daya tarik film besutan sutradara asal Islandia, Baltazar Kormakur, berjudul 2 GUNS .


Sangat bergaya Hollywood, dengan penuh adegan saling menembak. Kalimat-kalimat menyentil seperti "never rob a bank that's across the street from a diner with the best doughnuts in three counties" atau "you look like a Mexican Albert Einstein minus the genius factor". Mungkin beberapa bagian terlalu mengekspos kekerasan yang sebaiknya tidak ditonton anak di bawah umur, dan sebagian lagi terkesan berlebihan.


Tetapi ini adalah film Hollywood, apapun bisa terjadi. Kisah dimulai saat duo rekan Robert Trench (Denzel Washington ) dan Michael Stigman (Mark Wahlberg) melakukan transaksi kokain dengan raja narkoba, Papi Greco. Sayangnya mereka tidak berhasil mendapatkan kokain, dan menyiapkan rencana berikutnya dengan mencuri uang Greco dari Bank senilai US $ 3.000.000.


Hal yang tidak mereka ketahui adalah identitas masing-masing. Trench adalah agen DEA yang bertugas menjebak Papi Greco beserta bisnis hitamnya. Sementara Stigman adalah anggota intelijen Angkatan Laut Amerika yang juga ditugaskan untuk mengambil uang dari Papi Greco oleh atasannya, Quince.


Setelah berhasil mencuri uang Greco di Bank, mereka mendapati jumlah uang yang jauh melebihi perkiraan yaitu sebesar US $ 43.000.000. Kemudian atas perintah Quince, Stigman mengkhianati Trench dan membawa kabur uang tersebut.


Lalu siapakah sebenarnya pemilik 43 juta dolar itu? Benarkah Papi Greco satu-satunya otak di balik gembong narkoba terbesar di Meksiko? Bagaimana kelanjutan hubungan Trench dan Stigman yang pada awalnya saling menaruh curiga?


Sekali lagi, film ini adalah film aksi Hollywood bergaya klasik. Meski beberapa adegan dirasa sedikit "mustahil", tetap sah menurut anggapan Hollywood dan tentunya sangat menghibur.


Apalagi film ini juga menyajikan sentuhan komedi yang cukup segar. Ditambah lagi, kemunculan si cantik Paula Patton yang berperan sebagai Debb, agen DEA sekaligus mantan pacar Trench. Di akhir cerita, tersingkap juga jati diri Debb yang sebenarnya.


8:32 PM | 0 komentar | Read More

Mimpi tentang Indonesia Hilang




Moderator Febri Diansyah dari ICW, peneliti Fakultas Ekonomi UGM Rimawan Pradiptyo, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Acep Iwan Saidi, peneliti LIPI Syamsuddin Haris, dan Luky Djuniardi Djani dari Institute for Strategic Analysis (dari kiri ke kanan) menjadi pembicara dalam diskusi panel harian Kompas bersama Lingkar Muda Indonesia di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (12/9). Diskusi bertajuk ”Pemimpin yang Menyelesaikan Masalah” antara lain membahas kepemimpinan yang diharapkan rakyat muncul dalam Pemilihan Umum 2014. | KOMPAS/YUNIADHI AGUNG









JAKARTA, KOMPAS.com — Demokrasi yang tumbuh setelah reformasi dan gaduh dengan banyak isu tidak memunculkan mimpi tentang Indonesia. Upaya mencari pemimpin dalam pemilihan umum juga kerap terjebak dalam pesona pribadi kandidat tanpa tahu apa mimpi mereka tentang Indonesia.

Demikian salah satu topik bahasan diskusi Lingkar Muda Indonesia dengan tema ”Pemimpin yang Menyelesaikan Masalah” di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (12/9). Hadir sebagai pembicara peneliti senior Pusat Peneliti Politik LIPI Syamsuddin Haris, Ketua Forum Studi Kebudayaan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Acep Iwan Saidi, Deputi Peneliti dan Basis Data Penelitian dan Pelatihan Ekonomika dan Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Rimawan Pradiptyo, serta peneliti Institute for Strategic Analysis Luky D Djani.

”Sekarang, yang ada kita terpesona pada personalitas. Tidak pernah kita bertanya mimpi para kandidat. Kita belum menentukan ke mana arah mimpi kita tentang Indonesia,” ujar Luky.

Syamsuddin menambahkan, tidak hadirnya mimpi tentang Indonesia karena skema pemilu tidak membuka mekanisme bagi publik menguji mereka. Salah satu mimpi yang tidak muncul adalah soal kekayaan sumber daya alam Indonesia yang dikuasai asing. ”Belum satu pun pemimpin punya mimpi jelas soal ini. Apakah akan dinasionalisasi atau mengambil langkah radikal. Yang jelas, bukan suatu langkah biasa- biasa saja,” ujarnya.

Kritik disampaikan juga kepada kandidat yang dari hasil survei tinggi elektabilitasnya tetapi selalu bilang ”tidak mikir” ketika ditanya pencalonannya.

Mengenai konvensi, apresiasi diberikan. Kritik diberikan untuk potensi konvensi jadi semacam kontes pencarian bakat. Anggota komite konvensi, Effendi Gazali, yang hadir sebagai peserta diskusi, diberi ”tugas” untuk meminimalkan potensi ini. (INU)




Editor : Caroline Damanik


















8:17 PM | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger